Selasa, 15 Februari 2011

makalah gizi buruk

I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Derajat kesehatan yang tinggi dalam pembangunan ditujukan  untuk  mewujudkan  manusia  yang  sehat,  cerdas,  dan  produktif. Salah satu unsur penting dari kesehatan  adalah masalah  gizi. Gizi sangat penting  bagi  kehidupan.  Kekurangan  gizi  pada  anak  dapat  menimbulkan beberapa   efek   negatif   seperti   lambatnya   pertumbuhan   badan,   rawan terhadap   penyakit,   menurunnya   tingkat   kecerdasan,   dan   terganggunya mental  anak.  Kekurangan  gizi  yang  serius  dapat  menyebabkan  kematian anak  (Suwiji, 2006)
Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber  daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, serta cerdas. Bukti empiris menunjukkan bahwa hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik.  Status gizi yang baik ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang dikonsumsi. Masalah gizi kurang dan buruk dipengaruhi langsung oleh faktor konsumsi pangan dan penyakit infeksi. Secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola asuh, ketersediaan pangan, faktor sosial ekonomi, budaya dan politik. Apabila gizi kurang dan gizi buruk terus terjadi dapat menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional. Secara perlahan kekurangan gizi akan berdampak pada tingginya angka kematian ibu, bayi, dan balita, serta rendahnya umur harapan hidup. Selain itu, dampak kekurangan gizi terlihat juga pada rendahnya partisipasi sekolah, rendahnya pendidikan, serta lambatnya pertumbuhan ekonomi (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2007 ).
Kesepakatan global berupa Millenium Development Goals (MDGS)  yang terdiri dari 8 tujuan,  18 target dan 48 indikator, menegaskan bahwa  pada tahun 2015 setiap negara menurunkan kemiskinan dan kelaparan separuh dari kondisi pada tahun 1990. Untuk Indonesia, indikator yang digunakan adalah peresentase anak berusia di bawah 5 tahun (balita) yang mengalami gizi buruk (severe underweight) dan persentase anak-anak berusia 5 tahun (balita) yang mengalami gizi kurang (moderate underweight) (Ariani, 2007).   
Masalah gizi di Indonesia yang terbanyak meliputi gizi kurang atau yang mencakup susunan hidangan yang tidak seimbang maupun konsumsi keseluruhan yang  tidak  mencukupi  kebutuhan  badan.  Anak  balita  (1-5  tahun)  merupakan kelompok umur yang paling sering menderita akibat kekurangan gizi (KEP) atau termasuk salah satu kelompok masyarakat yang rentan gizi. (Himawan, 2006).
Masalah gizi makin lama makin disadari sebagai salah satu faktor penghambat proses pembangunan nasional. Masalah gizi yang timbul dapat memberikan berbagai dampak diantaranya meningkatnya Angka Kematian Bayi dan Anak, terganggunya pertumbuhan dan menurunnya daya kerja, gangguan pada perkembangan mental dan kecerdasan anak serta terdapatnya berbagai penyakit tertentu yang diakibatkan kurangnya asupan gizi. Masalah kekurangan zat gizi ada 4 yang dianggap sangat penting yaitu; kurang energi-protein, kurang Vitamin A, kurang Yodium (Gondok Endemik) dan kurang zat besi (Anemia Gizi Besi), (Paramata, 2009).
Kurang gizi atau gizi buruk dinyatakan sebagai penyebab tewasnya 3,5 juta anak di bawah usia lima tahun (balita) di dunia. Mayoritas kasus fatal gizi buruk berada di 20 negara, yang merupakan negara target bantuan untuk masalah pangan dan nutrisi. Negara tersebut meliputi wilayah Afrika, Asia Selatan, Myanmar, Korea Utara, dan Indonesia. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Inggris The Lanchet ini mengungkapkan, kebanyakan kasus fatal tersebut secara tidak langsung menimpa keluarga miskin yang tidak mampu atau lambat untuk berobat, kekurangan vitamin A dan zinc selama ibu mengandung balita, serta menimpa anak pada usia dua tahun pertama. Angka kematian balita karena gizi buruk ini terhitung lebih dari sepertiga kasus kematian anak di seluruh dunia (Malik, 2008).
Berbagai penelitian membuktikan lebih dari separuh kematian bayi dan balita disebabkan oleh keadaan gizi yang jelek. Resiko meninggal dari anak yang bergizi buruk 13 kali lebih besar dibandingkan anak yang normal. WHO memperkirakan bahwa 54% penyebab kematian bayi dan balita didasari oleh keadaan gizi anak yang jelek (Irwandy, 2007).
Prevalensi nasional Gizi Buruk pada Balita adalah 5,4%, dan Gizi Kurang pada Balita adalah 13,0%. Keduanya menunjukkan bahwa baik target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi (20%), maupun target Millenium Development Goals pada 2015 (18,5%) telah tercapai pada 2007. Namun demikian, sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara,Sumatera Barat, Riau, Jambi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI, 2008).
Tahun 2005 ditemukan 1,8 juta balita  dengan status gizi buruk, dan dalam waktu yang sangat singkat menjadi 2,3 juta di tahun 2006. Sekitar 37,3 juta penduduk hidup dibawah garis kemiskinan, separo dari total rumah tangga mengkonsumsi kurang dari kebutuhan sehari-hari, 5 juta balita berstatus gizi kurang, dan lebih dari 100 juta penduduk berisiko terhadap berbagai masalah kurang gizi (Hadi, 2005).
Hasil pemantauan Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo tahun 2007 dari 24.248 balita yang ditimbang se Kabupaten Gorontalo, 494 balita atau dua persen diantaranya mengalami gizi buruk. Selain dibeberapa daerah kabupaten juga banyak ditemukan kasus gizi buruk misalnya di kabupaten Bone Bolango.
Berdasarkan data yang diperoleh dari survey Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2009 bahwa jumlah balita di kabupaten Boalemo yaitu 11.657 jiwa, dimana penderita gizi buruk sebanyak 628 (5,4 %) jiwa dan jumlah penderita gizi kurang sebanyak 2.493 (21,4 %) jiwa.
Data mengenai status gizi balita di Puskesmas Dulupi Kecamatan Dulupi tahun 2009 menunjukkan dari sejumlah 823 balita terdapat 426 balita gizi baik, 133 balita gizi kurang (16,16%) dan 56 balita gizi buruk (6,3%). Dari data di atas dapat dilihat bahwa masih tingginya jumlah kasus, baik kasus gizi kurang maupun kasus gizi buruk pada tahun 2009 di wilayah kerja Puskesmas Dulupi. Dari jumlah penderita gizi buruk diatas, dapat dikategorikan masih tinggi dibanding jumlah standar nasional yang ditetapkan  yaitu <1% dan untuk kejadian gizi kurang <15%.
Dari latar belakang inilah maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor Risiko kejadian gizi buruk pada balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Dulupi Kecamatan Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009 di tinjau dari pola makan, tingkat pengetahuan gizi ibu, tingkat pendapatan, dan penyakit infeksi.





B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, penelitian ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan sebagai berikut:
1.    Berapa besar faktor risiko pola makan terhadap kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009?
2.    Berapa besar faktor risiko tingkat pengetahuan gizi ibu dengan kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009?
3.    Berapa besar faktor risiko tingkat pendapatan terhadap pola asuh ibu dengan kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009?
4.    Berapa besar faktor risiko tingkat penyakit infeksi terhadap pola asuh ibu dengan kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009?
C.    Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum

Untuk mengetahui Faktor Risiko Kejadian Gizi Buruk Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Dulupi Kecamatan Dulupi Kabupaten Boalemo Tahun 2009 ditinjau dari Pola Makan, Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu, Tingkat Pendapatan, dan Penyakit Infeksi.


2.    Tujuan Khusus

a.    Untuk mengetahui faktor risiko pola makan terhadap kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009.
b.    Untuk mengetahui faktor risiko tingkat pengetahuan gizi ibu terhadap kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009
c.    Untuk mengetahui faktor risiko tingkat pendapatan terhadap kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009
d.    Untuk mengetahui faktor risiko penyakit infeksi terhadap kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009
D.    Manfaat Penelitian

1.    Manfaat Ilmiah
Hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan menjadi salah satu sumber bacaan bagi para peneliti dimasa yang akan datang.
2.    Manfaat Institusi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Boalemo khususnya bagi Puskesmas Paguyaman Pantai serta pihak lain dalam menentukan kebijakan untuk menekan dan menangani kasus gizi buruk dan gizi kurang pada bayi/anak balita.
3.    Manfaat Praktis
Untuk mengetahui dan mendapatkan pengalaman yang nyata dalam melakukan penelitian khususnya mengenai beberapa faktor yang berhubungan dengan status gizi balita.















BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

A.    Kajian Pustaka
1.    Pengertian status gizi
    Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Dibedakan antara status gizi buruk, kurang, baik, dan lebih. Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang . Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Status gizi kurang terjagi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial. Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan, sehingga menimbulkan efek toksis atau membahayakan. Gangguan gizi terjadi baik pada status gizi kurang, maupun status gizi lebih (Almatsier, 2004).
    2.    Penilaian status gizi           
Penilaian status gizi terbagi atas penilaian secara langsung dan penilaian secara tidak langsung. Adapun penilaian secara langsung dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia dan biofisik. Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung terbagi atas tiga yaitu survei konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi.
a.    Penilaian secara langsung
1)    Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa, dkk., 2006).
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks antropometri.
Rekomendasi dalam menilai status gizi anak di bawah lima tahun yang dianjurkan untuk digunakan di Indonesia adalah baku World Health Organization-National Centre for Health Statistic (WHO-NCHS).
Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).




Tabel 1. Klasifikasi Status Gizi Anak (Balita)
INDEKS    STATUS GIZI    AMBANG BATAS
 Berat badan menurut umur
(BB/U)    Gizi lebih    >+ 2 Standar Deviasi (SD)
    Gizi baik     - 2 SD Sampai + 2 SD
    Gizi kurang    < -2 SD Sampai   -3 SD

    Gizi buruk    < -3 SD
 Tinggi badan menurut umur
 (TB/U)    Normal      -2 SD

    Pendek (Stunted)    < -2 SD
 Berat badan menurut tinggi
 badan (BB/TB)    Gemuk    > + 2 SD
    Normal      + 2 SD Sampai - 2 SD
    Kurus (Wasted)    < -2 SD Sampai   -3 SD

    Kurus sekali    < -3 SD
Sumber : Keputusan Menkes RI No. 920/Menkes/SK/VII/2002   

a)    Indeks berat badan menurut umur (BB/U)

Merupakan pengukuran antropometri yang sering digunakan sebagai indikator dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan dan keseimbangan antara intake dan kebutuhan gizi terjamin. Berat badan memberikan gambaran tentang massa tubuh (otot dan lemak). Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan yang mendadak, misalnya terserang infeksi, kurang nafsu makan dan menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. BB/U lebih menggambarkan status gizi sekarang. Berat badan yang bersifat labil, menyebabkan indeks ini lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini (Current Nutritional Status) (Supariasa, dkk., 2006).
b)    Indeks tinggi badan menurut umur (TB/U)
Indeks TB/U  disamping memberikan status gizi masa lampau, juga lebih erat kaitannya dengan status ekonomi (Beaton dan Bengoa (1973) dalam Supariasa, dkk. (2006)).
c)    Indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)   
Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu (Supariasa, dkk., 2006).
Berbagai    indeks antropometri, untuk menginterpretasinya  dibutuhkan ambang batas. Penentuan ambang batas yang paling umum digunakan saat ini adalah dengan memakai standar deviasi unit (SD) atau disebut juga Z-Skor.
Rumus perhitungan Z-Skor adalah :  
Z-Skor    =    Nilai individu subyek-Nilai median Baku Rujukan
                 Nilai Simpang Baku Rujukan

2)    Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi . Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid (Supariasa, dkk.,2006).
Pemeriksaan klinis meliputi pemeriksaan fisik secara menyeluruh, termasuk riwayat kesehatan. Bagian tubuh yang harus lebih diperhatikan dalam pemeriksaan klinis adalah kulit, gigi, gusi,bibir, lidah, mata (Arisman dalam Yuliaty, 2008).
3)    Biokimia   
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot (Supariasa, dkk., 2006). 
4)    Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan (Supariasa, dkk., 2006).


b.    Penilaian secara tidak langsung
    1)    Survei konsumsi makanan
            Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. Metode survei konsumsi makanan untu individu antara lain :
a)    Metode recall 24 jam
b)    Metode esthimated food record
c)    Metode penimbangan makanan (food weighting)
d)    Metode dietary history
e)    Metode frekuensi makanan (food frequency).
2)    Statistik vital
Pengukuran gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian sebagai akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi (Supariasa, dkk., 2006).
3)    Faktor ekologi
Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dan lain-lain (Supariasa, dkk., 2006).
A.    Tinjauan Tentang Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Gizi Buruk   
    Berdasarkan hasil studi kepustakaan yang telah ditemukan sebelumnya yaitu beberapa variabel bebas (independen) yang merupakan faktor- faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi buruk pada balita.
1.    Tinjauan Tentang Pola Makan
Pola makan adalah gambaran pola menu, frekuensi, dan jenis bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari dimana merupakan bagian dari gaya hidup atau ciri khusus suatu kelompok (Astawan, 2005).
Pola makan adalah cara individu atau kelompok individu memilih bahan makanan dan mengkonsumsinya sebagai tanggapan dari pengaruh fisiologi, sosial dan budaya diukur dengan frekuensi, jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari (Suhardjo, 2005).
Pola makan merupakan ciri khas untuk status kelompok masyarakat tertentu. Pola makan suatu daerah dapat berubah-ubah. Pola makan masyarakat pedesaan di Indonesia pada umumnya diwarnai oleh jenis-jenis bahan makanan yang umum dan diproduksi setempat. Misalnya pada masyarakat nelayan di daerah-daerah pantai ikan merupakan makanan sehari-hari yang dipilih karena dapat dihasilkan sendiri. Daerah-daerah pertanian padi , masyarakat berpola makan pokok beras. Daerah-daerah dengan produk utama jagung seperti pulau Madura dan Jawa Timur bagian selatan, masyarakatnya berpola pangan pokok jagung. Gunung Kidul dan beberapa daerah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur masyarakatnya berpola pangan pokok ubi kayu karena produksi tanaman pangan utama adalah ubi kayu (Khumaidi, 2007).
Pengertian pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan tiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu. Pola makan ini dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain adalah : kebiasaan kesenangan, budaya, agama, taraf ekonomi, lingkungan alam, dan sebagainya. Sejak zaman dahulu kala, makanan selain untuk kekuatan/pertumbuhan, memenuhi rasa lapar, dan selera, juga mendapat tempat sebagai lambang yaitu lambang kemakmuran, kekuasaan, ketentraman dan persahabatan. Semua faktor di atas bercampur membentuk suatu ramuan yang kompak yang dapat disebut pola konsumsi (Santoso dan Ranti, 2005).
Pola makan di suatu daerah dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan beberapa faktor ataupun kondisi setempat, yang dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu pertama adalah faktor yang berhubungan dengan persediaan atau pengadaan bahan pangan. Termasuk di sini faktor geografi, iklim, kesuburan tanah berkaitan dengan produksi bahan makanan, sumber daya perairan, kemajuan teknologi, transportasi, distribusi, dan persediaan suatu daerah. Kedua, adalah faktor-faktor dan adat kebiasaan yang berhubungan dengan konsumen. Taraf sosio-ekonomi dan adat kebiasaan setempat memegang peranan penting dalam pola konsumsi penduduk. Ketiga, hal yang dapat berpengaruh di sini adalah bantuan atau subsidi terhadap bahan-bahan tertentu. Selain itu, pola makan setempat juga dapat diperkaya dengan pengaruh budaya asing yang datang dari India, Arab, Cina, dan Eropa (Santoso dan Ranti, 2005).
Pemilihan bahan makanan ternyata dipengaruhi oleh unsur-unsur tertentu. Pertama, sumber-sumber pengetahuan masyarakat dalam memilih dan mengolah pangan mereka sehari-hari. Termasuk dalam sumber pengetahuan dalam memilih dan mengolah pangan adalah : sistem sosial keluarga secara turun temurun, proses sosialisasi dan interaksi anggota keluarga dengan media massa. Kedua, aspek aset dan akses masyarakat terhadap pangan mereka sehari-hari. Unsur aset dan akses terhadap pangan adalah berkenaan dengan pemilikan dan peluang upaya yang dapat dimanfaatkan oleh keluarga guna melakukan budidaya tanaman pangan dan atau sumber nafkah yang menghasilkan bahan pangan atau natura (uang). Ketiga, pengaruh tokoh panutan atau yang berpengaruh. Pengaruh tokoh panutan terutama berkenaan dengan hubungan bapak anak, jika keluarga yang memperoleh pangan atau nafkah berupa uang kontan melalui usaha tani majikan (Santoso dan Ranti, 2005).
Kebiasaan makan adalah cara-cara individu dan kelompok individu memilih, mengkonsumsi, dan menggunakan makanan-makanan yang tersedia, yang didasarkan kepada faktor-faktor sosial dan budaya di mana ia/mereka hidup. Kebiasaan makan individu, keluarga dan masyarakat dipengaruhi oleh :
a)    Faktor perilaku termasuk di sini adalah cara berpikir, berperasaan, berpandangan tentang makanan. Kemudian dinyatakan dalam bentuk tindakan makan dan memilih makanan. Kejadian ini berulang kali dilakukan sehingga menjadi kebiasaan makan.
b)    Faktor lingkungan sosial, segi kependudukan dengan susunan, tingkat, dan sifat-sifatnya.
c)    Faktor lingkungan ekonomi, daya beli, ketersediaan uang kontan, dan sebagainya.
d)    Lingkungan ekologi, kondisi tanah, iklim, lingkungan biologi, system usaha tani, sistem pasar, dan sebagainya.
e)    Faktor ketersediaan bahan makanan, dipengaruhi oleh kondisi-kondisi yang bersifat hasil karya manusia seperti sistem pertanian (perladangan), prasarana dan sarana kehidupan (jalan raya dan lain-lain), perundang-undangan, dan pelayanan pemerintah.
f)    Faktor perkembangan teknologi, seperti bioteknologi yang menghasilkan jenis-jenis bahan makanan yang lebih praktis dan lebih bergizi, menarik, awet dan lainnya.
Pola makan masyarakat atau kelompok di mana anak berada, akan sangat mempengaruhi kebiasaan makan, selera, dan daya terima anak akan suatu makanan. Oleh karena itu, di lingkungan anak hidup terutama keluarga perlu pembiasaan makan anak yang memperhatikan kesehatan dan gizi (Santoso dan Ranti, 2005).                                
2.    Tinjauan Tentang Pengetahuan Ibu Tentang Gizi
Pengetahuan adalah merupakan hasil ”tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2006).
Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yakni :
a.    Tahu (Know) 
Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b.    Memahami (Comprehension)
Diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar.

c.    Aplikasi (Aplication)
Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
d.    Analisis (Analysis)
Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e.    Sintesis (Synthesis)
Menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
e.    Evaluasi (Evaluation)
Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut di atas (Notoatmodjo, 2006).
Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi didasarkan pada tiga kenyataan :
a)    Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan.
b)    Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal, pemeliharaan dan energi.
c)    Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan gizi.
Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum dijumpai setiap negara di dunia. Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi. Lain sebab yang penting dari gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Rendahnya pengetahuan gizi dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dalam keluarga, yang selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi pangan. Rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi pangan, merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita (Suhardjo, 2007).
3.    Tinjauan Tentang Tingkat Pendapatan 
Tingkat pendapatan adalah total jumlah pendapatan dari semua anggota keluarga , termasuk semua jenis pemasukan yang diterima oleh keluarga dalam bentuk uang, hasil menjual barang, pinjaman dan lain-lain (Thaha, 1996 dalam Rasifa 2006).
Rendahnya tingkat pendapatan keluarga, akan sangat berdampak rendahnya daya beli keluarga tersebut. Pada masyarakat nelayan, rendahnya tingkat pendapatan keluarga , sangat berdampak terhadap rendahnya rata-rata tingkat pendidikan, yang pada gilirannya akan berimplikasi terhadap rendahnya tingkat pengetahuan dan perilaku (khususnya pengetahuan dan perilaku gizi). Rendahnya pengetahuan gizi dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dalam keluarga , yang selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi pangan. Rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi pangan, merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita (Suhardjo, 2007).
Kehidupan di kota-kota pada dewasa ini, terutama dalam pemberian atau penyajian makanan keluarga pada kebanyakan penduduk dapat dikatakan masih kurang mencukupi yang dibutuhkan oleh tubuh masing-masing. Kebanyakan keluarga telah merasa lega kalau mereka telah dapat mengkonsumsi makanan pokok (nasi, jagung) dua kali dalam sehari dengan lauk pauknya kerupuk dan ikan asin, bahkan tidak jarang mereka juga telah merasa lega kalau mereka telah dapat mengkonsumsi nasi atau jagung cukup dengan sambal dan garam. Menurut penelitian, keadaan yang umum ini dikarenakan rendahnya pendapatan yang mereka peroleh dan banyaknya anggota keluarga yang harus diberi makan dengan jumlah pendapatan yang rendah. Penduduk kota dan penduduk pedesaan yang kebanyakan berpenghasilan rendah, selain memanfaatkan penghasilannya itu untuk keperluan makan keluarga, juga harus membagi-baginya untuk berbagai keperluan lainnya (pendidikan, transportasi, dan lain-lain), sehingga tidak jarang persentase penghasilan untuk keperluan untuk keperluan penyediaan makanan hanya kecil saja. Mereka pada umumnya hidup dengan makanan yang kurang bergizi (Kartasapoetra, 2007).
   Tingkat pendapatan keluarga akan mempengaruhi mutu fasilitas perumahan, penyediaan air bersih dan sanitasi yang pada dasarnya sangat berperan terhadap timbulnya penyakit infeksi. Selain itu, penghasilan keluarga akan menentukan daya beli keluarga termasuk makanan, sehingga mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan yang tersedia dalam rumah tangga dan pada akhirnya mempengaruhi asupan zat gizi (Suhardjo dalam Yuliati, 2008).
Berkaitan dengan besarnya pendapatan keluarga, pemerintah Kota Kendari berdasarkan Peraturan Gubernur No. 35 Tahun 2008, tanggal 5 Desember Tahun 2008 menetapkan Upah Minimum Kota (UMK) Kendari tahun 2009 sebesar Rp. 810.000,- per bulan (Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Kendari, 2009).
4.    Tinjauan Tentang Penyakit Infeksi
Infeksi adalah masuknya, bertumbuh dan berkembangnya agent penyakit menular dalam tubuh manusia atau hewan. Infeksi tidaklah sama dengan penyakit menular karena akibatnya mungkin tidak kelihatan atau nyata. Adanya kehidupan agent menular pada permukaan luar tubuh, atau pada barang,  pakaian atau barang-barang lainnya, bukanlah infeksi, tetapi merupakan kontaminasi pada permukaan tubuh atau benda (Noor, 2006).
Infeksi berat dapat memperjelek keadaan gizi melalui gangguan masukan makanannya dan meningkatnya kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. Sebaliknya malnutrisi walaupun ringan berpengaruh negatif terhadap daya tahan tubuh terhadap infeksi (Pudjiadi, 2007).
Ada hubungan yang sangat erat antara infeksi (bakteri, virus dan parasit) dengan malnutrisi. Mereka menekankan interaksi yang sinergis antara malnutrisi dengan penyakit infeksi, dan juga infeksi akan mempengaruhi status gizi dan mempercepat malnutrisi. Mekanisme patologisnya dapat bermacam-macam, baik secara sendiri-sendiri maupun bersamaan, yaitu : 
a.    Penurunan asupan zat gizi akibat kurangnya nafsu makan, menurunnya absorpsi, dan kebiasaan mengurangi makan pada saat sakit.
b.    Peningkatan kehilangan cairan/zat gizi akibat diare, mual/muntah dan pendarahan yang terus menerus.

   
c.    Meningkatnya kebutuhan, baik dari peningkatan kebutuhan akibat sakit (human host) dan parasit yang terdapat dalam tubuh.
Pada umumnya baik infeksi umum maupun infeksi lokal, dapat respon metabolik bagi penderitanya, yang disertai dengan kekurangan zat gizi. Penelitian yang dilakukan, ditemui bahwa kurang gizi, dapat menyebabkan gangguan pada pertahanan tubuh. Di lain pihak, pada infeksi akan memberikan efek berupa gangguan pada tubuh, yang dapat menyebabkan kekurangan gizi. Penyakit infeksi dapat menyebabkan kurang gizi sebaliknya kurang gizi juga menyebabkan penyakit infeksi. Ada tendensi di mana, adanya penyakit infeksi, malnutrisi (gizi lebih dan gizi kurang), yang terjadi secara bersamaan di mana akan bekerjasama (secara sinergis), hingga suatu penyakit infeksi yang baru akan menyebabkan kekurangan gizi yang lebih berat. Ini dikenal dengan siklus sinergis (vicious cycle) yang banyak dan sering terjadi di negara-negara berkembang, menyebabkan tingginya angka kematian di negara tersebut (Supariasa, 2005).
Terjadinya hubungan timbal balik antara kejadian infeksi penyakit dan gizi kurang maupun gizi buruk.Anak yang menderita gizi kurang dan gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan, sehingga rentan terhadap penyakit infeksi. Di sisi lain anak yang menderita sakit infeksi akan cenderung menderita gizi buruk (Depkes dalam Yuliaty 2008).

B.    Tinjauan Umum Tentang Gizi Buruk

1.  Pengertian gizi buruk
Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi, atau nutrisinya di bawah standar rata-rata. Status gizi buruk dibagi menjadi tiga bagian, yakni gizi buruk karena kekurangan protein (disebut kwashiorkor), karena kekurangan karbohidrat atau kalori (disebut marasmus), dan kekurangan kedua-duanya. Gizi buruk ini biasanya terjadi pada anak balita (bawah lima tahun) dan ditampakkan oleh membusungnya perut (busung lapar). Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Gizi buruk (severe malnutrition) adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun (Nency, 2005).
2.  Faktor-faktor penyebab gizi buruk
Gizi buruk disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama adalah faktor pengadaan makanan yang kurang mencukupi suatu wilayah tertentu. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kurangnya potensi alam atau kesalahan distribusi. Faktor kedua, adalah dari segi kesehatan sendiri, yakni adanya penyakit kronis terutama gangguan pada metabolisme atau penyerapan makanan. Selain itu, ada tiga hal yang saling kait mengkait dalam hal gizi buruk, yaitu kemiskinan, pendidikan rendah dan kesempatan kerja rendah. Ketiga hal itu mengakibatkan kurangnya ketersediaan pangan di rumah tangga dan pola asuh anak keliru. Hal ini mengakibatkan kurangnya asupan gizi dan balita sering terkena infeksi penyakit (Mardiansyah, 2008).
Gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. Secara garis besar penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang kurang atau anak sering sakit/terkena infeksi.
a.   Asupan yang kurang disebabkan oleh banyak faktor antara lain :
1)    Tidak tersedianya makanan secara adekuat, Tidak tersedianya makanan yang adekuat terkait langsung dengan kondisi sosial ekonomi. Kadang kadang bencana alam, perang, maupun kebijaksanaan politik maupun ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini. Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya makan yang adekuat. Data Indonesia dan negara lain menunjukkan bahwa adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Proporsi anak malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi.
2)    Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang, Makanan alamiah terbaik bagi bayi yaitu Air Susu Ibu, dan sesudah usia 6 bulan anak tidak mendapat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya akan berkonsekuensi terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam folat, vitamin B serta vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapat disiapkan sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan.
3)    Pola makan yang salah, Pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnya ASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknya lebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. Sebaliknya sebagian anak yang gizi buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuh yang juga miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya perempuan yang meninggalkan desa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapat menyebabkan anak menderita gizi buruk.
Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan / adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak . Misalnya kebiasaan memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini, berpantang pada makanan tertentu (misalnya tidak memberikan anak anak daging, telur, santan dll), hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan lemak, protein maupun kalori yang cukup.
b.      Sering sakit (frequent infection)
    Menjadi penyebab terpenting kedua kekurangan gizi, apalagi di negara negara terbelakang dan yang sedang berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan kebersihan / personal hygine yang masih kurang, serta ancaman endemisitas penyakit tertentu, khususnya infeksi kronik seperti misalnya tuberculosis (TBC) masih sangat tinggi. Kaitan infeksi dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan, karena keduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akan meyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan tubuh.
3.    Patofisiologi gizi buruk
Patofisiologi gizi buruk pada balita yaitu anak sulit makan atau anorexia bisa terjadi karena penyakit akibat defisiensi gizi, psikologik sperti suasana makan, pengaturan makanan dan lingkungan. Rambut mudah rontok dikarenakan kekurangan protein, vitamin A, vitamin C dan vitamin E. Karena keempat elemen ini meurpakan nutrisi yang penting bagi rambut. Pasien juga mengalami rabun senja. Rabun senja terjadi karena defisiensi vitamin A dan protein. Pada retina ada sel batang dan sel kerucut. Sel batang lebih hanya bida membedakan cahaya terang dan gelap. Sel batang atau rodopsin ini terbentuk dari vitamin A dan suatu protein. Jika cahaya terang mengenai sel rodopsin, maka sel tersebut akan terurai. Sel tersebut akan mengumpul lagi pada cahaya yang gelap. Inilah yang disebut adaptasi rodopsin. Adaptasi ini butuh waktu. Jadi, rabun senja terjadi karena kegagalan atau kemunduran adaptasi rodopsin.
Tugor atau elastisitas kulit jelek karena sel kekurangan air (dehidrasi). Reflek patella negatif terjadi karena kekurangan aktin myosin pada tendo patella dan degenerasi saraf motorik akibat dari kekurangn protein, Cu dan Mg seperti gangguan neurotransmitter. Sedangkan, hepatomegali terjadi karena kekurangan protein. Jika terjadi kekurangan protein, maka terjadi penurunan pembentukan lipoprotein. Hal ini membuat penurunan VLDL dan LDL. Karena penurunan VLDL dan LDL, maka lemak yang ada di hepar sulit ditransport ke jaringan-jaringan, pada akhirnya penumpukan lemak di hepar.
Yang khas pada penderita kwashiorkor adalah pitting edema. Pitting edema adalah edema yang jika ditekan, sulit kembali seperti semula. Pitting edema disebabkan oleh kurangnya protein, sehingga tekanan onkotik intravaskular menurun. Jika hal ini terjadi, maka terjadi ekstravasasi plasma ke intertisial. Plasma masuk ke intertisial, tidak ke intrasel, karena pada penderita kwashiorkor tidak ada kompensansi dari ginjal untuk reabsorpsi natrium. Padahal natrium berfungsi menjaga keseimbangan cairan tubuh. Pada penderita kwashiorkor, selain defisiensi protein juga defisiensi multinutrien. Ketika ditekan, maka plasma pada intertisial lari ke daerah sekitarnya karena tidak terfiksasi oleh membran sel. Untuk kembalinya membutuhkan waktu yang lama karena posisi sel yang rapat. Edema biasanya terjadi pada ekstremitas bawah karena pengaruh gaya gravitasi, tekanan hidrostatik dan onkotik (Sadewa, 2008).
4.    Gejala klinis gizi buruk
Gejala klinis gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan sebagai marasmus, kwashiorkor, atau marasmic-kwashiorkor. Tanpa mengukur atau melihat berat badan bila disertai edema yang bukan karena penyakit lain adalah KEP berat / gizi buruk tipe kwashiorkor.
a.     Kwashiorkor
a)     Edema, umumnya seluruh tubuh, terutama pada punggung kaki.
b)     Wajah membulat
c)     Pandangan mata sayu
d)     Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut     tanpa rasa sakit atau rontok
e)     Perubahan status mental, apatis, dan rewel
f)     Pembesaran hati
g)     Otot mengecil ( hipotrofi ), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk.
h)     Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas.
i)     Sering disertai : penyakit infeksi, anemia, diare.
b.     Marasmus
a)     Tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit
b)    Wajah seperti orangtua
c)     Cengeng, rewel
d)     Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada.
e)     Sering disertai : penyakit infeksi ( umumnya kronis berulang )
f)     Diare kronis atau konstipasi / susah buang air
c.     Marasmik-Kwashiorkor
         Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan marasmus, dengan BB/U <60% baku median WHO- NCHS disertai edema yang tidak mencolok.

5.     Dampak gizi buruk
Gizi Buruk bukan hanya menjadi stigma yang ditakuti, hal ini tentu saja terkait dengan dampak terhadap sosial ekonomi keluarga maupun negara, di samping berbagai konsekuensi yang diterima anak itu sendiri.
Kondisi gizi buruk akan mempengaruhi banyak organ dan sistem, karena kondisi gizi buruk ini juga sering disertai dengan defisiensi (kekurangan) asupan mikro/makro nutrien lain yang sangat diperlukan bagi tubuh. Gizi buruk akan memporak porandakan sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme maupun pertahanan mekanik sehingga mudah sekali terkena infeksi.
Secara garis besar, dalam kondisi akut, gizi buruk bisa mengancam jiwa karena berberbagai disfungsi yang di alami, ancaman yang timbul antara lain hipotermi (mudah kedinginan) karena jaringan lemaknya tipis, hipoglikemia (kadar gula dalam darah yang dibawah kadar normal) dan kekurangan elektrolit dan cairan tubuh. Jika fase akut tertangani dan namun tidak di follow up dengan baik akibatnya anak tidak dapat ”catch up” dan mengejar ketinggalannya maka dalam jangka panjang kondisi ini berdampak buruk terhadap pertumbuhan maupun perkembangannya.
Akibat gizi buruk terhadap pertumbuhan sangat merugikan performance anak, akibat kondisi ”stunting” (postur tubuh kecil pendek) yang diakibatkannya. Yang lebih memprihatinkan lagi, perkembangan anak pun terganggu. Efek malnutrisi terhadap perkembangan mental dan otak tergantung dangan derajat beratnya, lamanya dan waktu pertumbuhan otak itu sendiri. Dampak terhadap pertumbuhan otak ini menjadi vital karena otak adalah salah satu aset yang vital bagi anak.
Beberapa penelitian menjelaskan, dampak jangka pendek gizi buruk terhadap perkembangan anak adalah anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara dan gangguan perkembangan yang lain. Sedangkan dampak jangka panjang adalah penurunan skor tes IQ, penurunan perkembangn kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri dan tentu saja merosotnya prestasi anak (Nency, 2005).
6.    Pencegahan
    Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak:
1)     Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun.
2)     Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.
3)     Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke dokter.
4)     Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit.
5)     Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.
7.     Tindakan pemerintah untuk menanggulangi gizi buruk
Menurut Menteri Kesehatan RI, tanggung jawab pemerintah Pusat dalam hal ini Depkes adalah merencanakan dan menyediakan anggaran bagi keluarga miskin melalui Jaminan Kesehatan Masyarakat, membuat standar pelayanan, buku pedoman serta melakukan pembinaan dan supervisi program ke provinsi, kabupaten dan kota. Dalam kaitannya dengan gizi buruk, Depkes pada tahun 2005 telah mencanangkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk 2005–2009. Menkes menambahkan, pemerintah berusaha meningkatkan aktivitas pelayanan kesehatan dan gizi yang bermutu melalui penambahan anggaran penanggulangan gizi kurang dan gizi buruk menjadi Rp. 600 milyar pada tahun 2007 dari yang sebelumnya 63 milyar pada tahun 2001. Anggaran tersebut ditujukan untuk:
a)    Meningkatkan cakupan deteksi dini gizi buruk melalui penimbangan bulanan balita di posyandu.
b)    Meningkatkan cakupan dan kualitas tatalaksana kasus gizi buruk di Puskesmas/RS dan rumah tangga.
c)    Menyediakan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) kepada balita kurang gizi dari keluarga miskin.
d)    Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu dalam memberikan asuhan gizi kepada anak (ASI/MP-ASI).
e)    Memberikan suplementasi gizi (kapsul Vitamin A) kepada semua balita.
Adapun strategi dan kegiatan Depkes dan organ-organnya, untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut antara lain:
Strategi:
a.     Revitalisasi posyandu untuk mendukung pemantauan pertumbuhan
b.     Melibatkan peran aktif tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuka adat dan kelompok potensial lainnya.
c.     Meningkatkan cakupan dan kualitas melalui peningkatan keterampilan tatalaksana gizi buruk.
d.     Menyediakan sarana pendukung (sarana dan prasarana).
e.     Menyediakan dan melakukan KIE.
f.     Meningkatkan kewaspadaan dini KLB gizi buruk.
Kegiatan:
a.     Deteksi dini gizi buruk melalui bulan penimbangan balita di posyandu
1)    Melengkapi kebutuhan sarana di posyandu (dacin, KMS/Buku KIA).
2)    Orientasi kader.
3)    Menyediakan biaya operasional.
4)    Menyediakan materi KIE.
5)    Menyediakan suplementasi vitamin A.
b..     Tatalaksana kasus gizi buruk
1)    Menyediakan biaya rujukan khusus untuk gizi buruk gakin baik di Puskesmas/RS.
2)    Kunjungan rumah tindak lanjut setelah perawatan di puskesmas/RS.
3)    Menyediakan paket PMT bagi pasien pasca perawatan.
4)    Meningkatkan ketrampilan petugas puskesmas/RS dalam tatalaksana gizi buruk.
c.     Pencegahan gizi buruk
1)    Pemberian makanan tambahan pemulihan (MP-ASI) kepada balita gakin yang berat badannya tidak naik atau gizi kurang.
2)    Penyelenggaraan PMT penyuluhan setiap bulan di posyandu.
3)    Konseling kepada ibu-ibu yang anaknya mempunyai gangguan pertumbuhan.
d.     Surveilans gizi buruk
1)    Pelaksanaan pemantauan wilayah setempat gizi (PWS-Gizi).
2)    Pelaksanaan sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa gizi buruk.
3)    Pemantauan status gizi (PSG).
e.     Advokasi, sosialisasi dan kampanye penanggulangan gizi buruk
1)    Advokasi kepada pengambil keputusan (DPR, DPRD, Pemda, LSM, dunia usaha dan masyarakat).
2)    Kampanye penanggulangan gizi buruk melalui media efektif.
f.     Manajemen program:
1)    Pelatihan petugas
2)    Bimbingan teknis
C.    Kerangka Konsep

Anak balita juga merupakan kelompok umur yang rawan gizi. Kelompok ini yang merupakan kelompok umur yang paling menderita akibat gizi, dan jumlahnya dalam populasi besar. Status gizi dipengaruhi oleh faktor langsung berupa asupan makanan/ tingkat konsumsi dan penyakit infeksi, sedangkan faktor tidak langsung berupa faktor sosial ekonomi yang meliputi tingkat pendidikan, tingkat pendapatan keluarga, pola asuh makan, pengetahuan gizi dan ketersediaan pangan.
Salah satu penyebab tidak langsung dari kekurangan gizi pada balita adalah rendahnya tingkat pengetahuan gizi keluarga, yang disertai dengan rendahnya perilaku gizi keluarga. Ada beberapa faktor domain yang saling berhubungan dalam mempengaruhi konsumsi pangan dan gizi keluarga adalah pengetahuan gizi keluarga (khususnya ibu) dan tingkat pendapatan keluarga.
Untuk mencapai status gizi baik, harus ditunjang oleh tingkat pengetahuan gizi yang baik serta pendapatan yang memadai.  Pada penelitian ini, yang menjadi variabel bebas yang diteliti adalah pola makan, pengetahuan gizi ibu, tingkat pendapatan perk├ípita keluarga, dan penyakit infeksi. Sedangkan yang menjadi variabel terikat adalah kejadian gizi buruk pada balita. Adapun kerangka konsep secara lengkap dapat dilihat pada gambar 1.










    Gambar 3.1 : Kerangka Konsep Penelitian
Keterangan :
:Variabel Independen

: Variabel Dependen
           
            : Variabel Yang Tidak Diteliti
D.    Hipotesis

1.    Hipotesis Alternatif(Ha)

    a.   Pola makan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.
b.    Tingkat pengetahuan gizi ibu merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.
c.    Tingkat pendapatan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.
d.    Penyakit infeksi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.
2.     Hipotesis Nol (H0)
1)    Pola makan bukan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.
2)    Pengetahuan ibu tentang gizi bukan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.
3)    Tingkat pendapatan bukan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.
4)    Penyakit infeksi bukan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.








III. METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah analitik observasional dengan rancangan case control study yaitu suatu penelitian analitik yang menyangkut bagaimana faktor risiko ditelusuri dengan menggunakan pendekatan retrospektif yang bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian gizi buruk d tinjau dari pola makan, tingkat pengetahuan gizi ibu, tingkat pendapatan, dan penyakit infeksi.




   
                       Matching
                           (Umur dan Jenis kelamin)





Gambar 2. Desain Penelitian Case Control
   
B.    Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan November tahun 2009 di wilayah kerja Puskesmas Dulupu Kecamatan Dulupi Kabupaten Boalemo
C.    Populasi dan Sampel
1.    Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah semua balita gizi buruk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009 berjumlah 823 jiwa balita
2.    Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi, pada penelitian ini sampel terdiri dari :
Kasus    :    Gizi Buruk yang ada di kecamatan Dulupi tahun 2009
Kontrol    :    Gizi Baik yang ada di kecamatan paguyaman Dulupi tahun 2009
Tehnik pengambilan sampel dilakukan secara non random sampling dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan pertimbangan sebagai berikut :
1.    Sampel kasus dan kontrol yang diambil berdasrkan data yang ada di     puskesmas yang ada di Kecamatan Dulupi tahun 2009
2.    sampel kontrol dipilih dalam bentuk berpasangan (matching) dengan sampel kasus.
3.    Macthing yang digunakan adalah macthing umur.
4.    Penentuan besar sampel mengacu pada jumlah kasus yang tercatat di     Puskesmas yang ada di Kecamatan Dulupi yaitu 56 kasus.
5.    Besar sampel yang di ambil menggunakan rumus Sopiyudin dahlan yaitu sesuai kriteria variabel penelitian yang digunakan dan memperbanyak jumlah pembanding (kontrol) dengan perbandingan kasus dan kontrol yaitu 1:2 dengan rumus sebagai berikut :
n  = N (C+1)
_______
                  2C
Sumber : Sopiyudin dahlan, 2005

 Keterangan
       n = besar sampel
       N = jumlah kasus yang tercatat di rekam medik
       C = jumlah perbandingan
       sehingga besar sampel adalah :
       n = 56(2+1)
              _______
                 2x2
        n = 56x3
               _____
                  4
        n = 42

        Jadi besar sampel kasus Berjumlah 42, sampel kontrol berjumlah 426.


c.    Teknik pengambilan sampel
Pada penelitian ini pemilihan sampel dilakukan secara total sampling yaitu semua populasi dijadikan sebagai sampel. Adapun jumlah sampel pada penelitian ini adalah 23 orang kemudian kontrol 23 orang, sehingga untuk total keseluruhannya adalah 46 orang.
d.    Responden
Pada penelitian ini responden adalah ibu dari balita yang terpilih menjadi sampel dan bersedia untuk menjadi responden pada penelitian ini.     
D.    Variabel Penelitian, Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
1.    Variabel Penelitian
a.    Variabel bebas (independent variable) yaitu pola makan, pengetahuan gizi ibu, tingkat pendapatan dan penyakit infeksi.
b.    Variabel terikat (dependent variable) yaitu kejadian gizi buruk pada balita.
2.    Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
a.     Status Gizi
Status gizi adalah gambaran keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi, dilakukan dengan pengukuran BB/U dan dibandingkan dengan standar WHO-NCHS dengan simpang baku Z-Score. Adapun kriteria objektifnya yaitu :
1)    Gizi baik    :     Bila Z-Score   -2 SD sampai +2 SD
2)    Gizi buruk    :     Bila Z-Score < -3 SD
b.    Pola makan
Pola makan adalah kebiasaan makan dari balita yang memberikan gambaran mengenai macam makanan dan frekuensi makan seseorang balita. Pola makan diukur melalui nilai dari kuesioner. Adapun kriteria objektifnya adalah sebagai berikut :
1)    Cukup    :    Bila pola makan balita > 50 % dari total skor jawaban benar
 2)    Kurang    :    Bila pola makan balita   50 % dari total skor jawaban benar
c.    Pengetahuan Ibu Tentang Gizi
Merupakan pengetahuan responden (ibu balita) tentang hal-hal yang berhubungan dengan gizi, yang diukur melalui nilai dari daftar pertanyaan/kuesioner. Adapun kriteria objektifnya adalah sebagai berikut :
1)    Cukup    :    Bila pengetahuan gizi ibu > 50 % dari total skor jawaban benar.
 2)    Kurang    :    Bila pengetahuan gizi ibu   50 % dari total skor jawaban benar.
d.    Tingkat Pendapatan
Tingkat pendapatan adalah jumlah pendapatan perkapita yang diperoleh oleh kepala keluarga, istri, anak maupun anggota keluarga lainnya yang tinggal pada rumah tangga tersebut yang dinilai dalam bentuk uang dan barang yang dinilai dengan uang (rupiah) kemudian dibagi dengan jumlah anggota keluarga. Tingkat pendapatan perkapita keluarga pada tiap rumah tangga dinilai berdasarkan standar Upah Minimum Kota Kendari Tahun 2009. Adapun kriteria objektifnya sebagai berikut :

1)    Cukup    =     Bila pendapatan keluarga   Rp.500.000,- per bulan.
2)    Kurang    =    Bila pendapatan keluarga < Rp. 500.000,- per bulan.
(Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Kendari, 2009).
e.    Penyakit infeksi
Penyakit infeksi adalah penyakit yang diderita oleh balita selama berada pada wilayah lokasi penelitian dalam enam bulan terakhir sesuai dengan medical recordnya dan hasil wawancara. kriteria objektifnya adalah sebagai berikut :
1)    Ya    :    Apabila balita menderita salah satu atau lebih penyakit infeksi dalam enam bulan terakhir.
2)    Tidak    :    Apabila balita tidak pernah menderita salah satu atau lebih penyakit infeksi dalam enam bulan terakhir.
E.    Teknik Pengumpulan Data
1.    Data Primer
Diperoleh melalui daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah disusun sebelumnya berdasarkan tujuan penelitian yang dilakukan. Kemudian pertanyaan tersebut ditanyakan kepada responden.
2.    Data Sekunder
Diperoleh dari Puskesmas, penelusuran internet, dan dari instansi terkait lainnya.
F.    Tehnik Analisis Data
1.    Pengolahan Data
Pangolahan data dilakukan secara manual dan elektronik dengan menggunkan kalkulator dan komputer dengan program SPSS versi 14.0.
2.    Penyajian Data
Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai dengan penjelasan dan tabel untuk melihat pengaruh antara variabel independen dan variabel dependen.


3.    Analisis data 
Tekhnik analisis data yang digunakan adalah dengan uji kemaknaan a = 95% uji statistik yang digunakan adalah Odds Ratio, untuk menentukan basar faktor risiko variabel independen dengan rumus :
Tabel 4.1
Tabel Kontingensi 2 x 2
Faktor Risiko    Kelompok Studi    Jumlah
    Kasus    Kontrol   
Positif (+)    a    b    a + b
Negatif(-)    c    d    c + d
Jumlah    a + c    b + d    a + b + c + d
    Sumber : Chandra B, 1996
    OR = ad
              bc
Keterangan :
a    = Jumlah kasus dengan risiko positif (+)
b    = Jumlah kontrol dengan risiko positif (-)
c    = Jumlah kasus dengan risiko negatif (+)
d    = Jumlah kontrol dengan risiko negatif (-)



Interpestasi :
1.    Jika OR > 1, variabel independen merupakan faktor risiko terhadap pola asuh ibu dengan status gizi
2.    Jika OR = 1, variabel independen bukan merupakan faktor risiko terhadap pola asuh ibu dengan status gizi
3.    Jika OR < 1, variabel independen merupakan faktor protektif terhadap pola asuh ibu dengan status gizi
4.    Jika nilai lower limit dan upper limit tidak melalui atau mencakup nilai 1 maka OR dianggap bermakna, sebaliknya jika nilai upper limit dan lower limit melalui nilai 1 berarti OR dianggap tidak bermakna.















IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN


A.    Gambaran Umum Lokasi
1.    Letak Geografis
    Puskesmas Mata merupakan salah  satu  dari 11 Puskesmas yang ada di Kota Kendari, yang terletak di Kecamatan Kendari Kelurahan Kessilampe. Jarak dari Kantor Walikota  lebih kurang 12 km ke arah barat.
Wilayah kerja Puskesmas Mata ± 67.805 hektar yang berjarak ± 25 KM dari Ibukota Propinsi.
Adapun batas-batas wilayah kerja Puskesmas Mata antara lain :
a.    Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Soropia
b.    Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Kendari
c.    Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Banda
d.    Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kendari Barat
Jumlah desa/kelurahan seluruhnya di wilayah kerja Puskesmas Mata ada 9 kelurahan. Keadaan alam di wilayah kerja Puskesmas Mata terdiri dari  dataran (35%), pegunungan/bukit (65%). Iklim di wilayah kerja Puskesmas Mata adalah iklim tropis dengan musim hujan umumnya bulan Desember – Mei dan musim kemarau terjadi bulan Juni - November.  Suhu udara rata-rata berkisar antara 270C – 370C.

e.    Kondisi Demografis
Berdasarkan hasil pendataan terakhir, jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mata adalah 22.310  jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 5.044, yang tersebar dalam 9 wilayah kelurahan. Mata pencaharian terbesar penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mata adalah pedagang/industri (44%). Sedangkan yang lainnya adalah PNS/ABRI (23%), tani/nelayan (15%) dan sisanya buruh, sopir dan pekerja lainnya (18%).
Masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Mata terdiri dari berbagai macam suku. Mayoritas adalah suku Bugis, Muna dan Tolaki, juga terdapat kelompok suku minoritas yaitu Buton, Jawa, dan Makassar. Sebagian besar memeluk agama Islam. Agama lain yang dianut adalah Kristen, Katolik, Hindu dan Budha.
f.    Sarana Kesehatan
Sarana pelayanan kesehatan di terdapat di wilayah kerja Puskesmas Mata yang dijadikan sebagai unit pelayanan kesehatan bagi masyarakat setempat terdiri dari sarana kesehatan pemerintah dan sarana kesehatan yang bersumber daya masyarakat antara lain sebagai sarana kesehatan pemerintah terdiri dari 1 Puskesmas non perawatan dan  3 Puskesmas Pembantu, sedangkan sarana kesehatan bersumber daya masyarakat terdiri dari 15 Posyandu Balita dan 2 Posyandu Lansia.   


B.    Hasil Penelitian  dan Pembahasan
1.    Analisis univariat
a.    Distribusi balita menurut umur
Umur adalah umur pada saat ulang tahun terakhir (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Serang, 2008).
Penentuan matching umur sampel (kasus dan kontrol) berdasarkan kelompok umur dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Distribusi  Matching Sampel Berdasarkan Kelompok Umur

Kelompok Sampel    Kelompok Umur
    0-11
bln    12-23
bln    24-35
bln    36-47
bln    48-59
bln
Kasus    5    10    7    1    0
Kontrol    5    10    7    1    0
Jumlah    10    20    14    2    0
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009   
Tabel 3 memperlihatkan bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel, jumlah balita yang menjadi sampel lebih banyak pada kelompok umur 12-23 bulan yaitu sebanyak 20 balita (10 balita pada kasus dan 10 balita pada kontrol) dan tidak ditemukan balita pada kelompok umur 48-59 bulan (tidak ada balita baik pada kelompok kasus maupun kontrol).
 Kelompok umur balita dalam penelitian ini dapat juga dilihat pada gambar 3  berikut :

    Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Gambar 3.    Grafik Balita Menurut  Umur  di  Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008

Pada gambar 3 telihat bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel, jumlah balita yang menjadi sampel lebih banyak pada kelompok umur 12-23 bulan yaitu sebanyak 20 balita (43,5%) dan tidak ditemukan balita pada kelompok umur 48-59 bulan (0%).
b.    Distribusi balita menurut jenis kelamin
Jenis kelamin adalah kata yang umumnya digunakan untuk membedakan seks seseorang seperti laki-laki dan perempuan (Komsiah, 2008).
Penentuan matching sampel (kasus dan kontrol) berdasarkan jenis kelamin dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.


Tabel 4. Distribusi  Matching Sampel berdasarkan Jenis Kelamin
Kelompok Sampel    Jenis Kelamin    Jumlah
    Laki-Laki    Perempuan   
Kasus    11    12    23
Kontrol    11    12    23
Jumlah    22    24    46
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Tabel 4 memperlihatkan bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel, jumlah balita yang menjadi sampel lebih banyak pada jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 24 balita (12 balita pada kasus dan 12 balita pada kontrol) dan balita dengan jenis kelamin laki-laki yaitu 22 balita (11 balita pada kasus dan 11 balita pada kontrol).
Karakteristik balita menurut jenis kelamin dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 4.

 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
      Gambar 4.     Grafik   Balita   Menurut   Jenis   Kelamin   di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008

Gambar 4 menunjukkan bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel, sebagian besar balita berjenis kelamin perempuan sebanyak 24 orang (52,2%), dan sebanyak 22 balita (47,8%) berjenis  kelamin laki-laki.
c.    Distribusi balita menurut jenis penyakit infeksi
Infeksi adalah masuknya, bertumbuh dan berkembangnya agent penyakit menular dalam tubuh manusia atau hewan. Infeksi tidaklah sama dengan penyakit menular karena akibatnya mungkin tidak kelihatan atau nyata. Adanya kehidupan agent menular pada permukaan luar tubuh, atau pada barang,  pakaian atau barang-barang lainnya, bukanlah infeksi, tetapi merupakan kontaminasi pada permukaan tubuh atau benda (Noor, 1997).
Jenis penyakit infeksi yang diderita oleh balita dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Distribusi    Balita    Berdasarkan   Jenis    Penyakit    Infeksi         di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
No    Penyakit Infeksi    Jumlah    %
1
2
3
4
    ISPA
Diare
Cacar
Tidak Menderita Penyakit Infeksi    32
5
2
7    69,6
10,9
4,3
15,2
    Total    46    100
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Tabel 5 memperlihatkan bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel, sebagian besar sampel menderita penyakit infeksi yaitu 39 orang (84,8%), 32 orang (69,6%) diantaranya menderita ISPA, 5 orang (10,9%) menderita diare dan 2 orang (4,3%) menderita cacar. Sedangkan yang tidak menderita penyakit infeksi  sebanyak 7 orang (15,2 %). Data diperoleh dari keterangan responden dan diagnosa penyakit didasarkan pada catatan medik (medical record) Puskesmas Mata.
d.    Distribusi balita menurut pola makan
Gambaran pola makan balita dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6.    Distribusi Sampel  Berdasarkan   Pola Makan  di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
Kelompok Sampel    Pola Makan    Jumlah
    Kurang    Cukup   
Kasus    21    2    23
Kontrol    10    13    23
Jumlah    31    15    46
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Tabel 6 memperlihatkan bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel, jumlah balita yang menjadi sampel lebih banyak yang pola makannya kurang yaitu sebanyak 31 balita (21 balita pada kasus dan 10 balita pada kontrol) dan balita dengan pola makan cukup yaitu 15 balita (2 balita pada kasus dan 13 balita pada kontrol).
e.    Distribusi balita menurut pengetahuan ibu tentang gizi
Gambaran pengetahuan ibu tentang gizi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 7.     Distribusi Sampel  Berdasarkan Pengetahuan Gizi Ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
Kelompok Sampel    Pengetahuan Ibu Tentang Gizi    Jumlah
    Kurang    Cukup   
Kasus    13    10    23
Kontrol    2    21    23
Jumlah    15    31    46
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Tabel 7 memperlihatkan bahwa dari 46 sampel, jumlah sampel yang  banyak yang memiliki pengetahuan ibu tentang gizi yang cukup yaitu sebanyak 31 balita (10 balita pada kasus dan 21 balita pada kontrol) dan balita dengan pengetahuan ibu tentang gizi yang kurang yaitu 15 balita (13 balita pada kasus dan 2 balita pada kontrol).
f.    Distribusi balita menurut tingkat pendapatan
Gambaran tingkat pendapatan keluarga balita dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8.     Distribusi Sampel Berdasarkan Tingkat Pendapatan Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
Kelompok Sampel    Pendapatan Keluarga    Jumlah
    Kurang    Cukup   
Kasus    21    2    23
Kontrol    20    3    23
Jumlah    41    5    46
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Tabel 7 memperlihatkan bahwa dari 46 sampel, jumlah sampel yang  banyak yang memiliki pendapatan kelarga yang kurang yaitu sebanyak 41 balita (21 balita pada kasus dan 20 balita pada kontrol) dan balita dengan pendapatan kelarga yang cukup yaitu 5 balita (2 balita pada kasus dan 3 balita pada kontrol).
g.    Distribusi responden menurut tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan adalah suatu proses jangka panjang yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisir, yang mana tenaga kerja manajerial mempelajari pengetahuan konsepsual dan teoritis untuk tujuan tujuan umum (Mangkunegara, 2003).
Karakteristik responden menurut tingkat pendidikan dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 5 berikut :

 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
 Gambar 5. Grafik Responden Menurut Tingkat Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun  2008
Gambar 5 menunjukkan bahwa dari 46 responden, sebagian besar responden mempunyai tingkat pendidikan  SMP sebanyak 21 orang (45,7%) dan hanya 4 responden (8,7%) yang mempunyai tingkat pendidikan perguruan tinggi.
h.    Distribusi responden menurut jenis pekerjaan kepala keluarga
Pekerjaan adalah suatu kegiatan yang dil;akukan untuk menafkahi diri dan keluarganya dimana pekerjaan tersebut tidak ada yang mengatur dan dia bebas karena tidak ada etika yang mengatur (Cookeyzone, 2009).
Karakteristik ibu balita menurut jenis pekerjaan kepala keluarga dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 6 berikut :

             Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
      Gambar 6. Grafik   Responden   Menurut Jenis Pekerjaan Kepala Rumah Tangga di Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
Gambar 6 menunjukkan bahwa dari 46 responden, sebagian besar kepala keluarga mempunyai mata pencaharian sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 22 orang (47,8%). Sedangkan sebagian kecil mempunyai pekerjaan sebagai buruh, PNS, ojek, tukang kayu dan nelayan .
2.    Analisis bivariat
a.    Faktor risiko pola makan dengan kejadian gizi buruk pada balita

Pola makan adalah gambaran pola menu, frekuensi, dan jenis bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari dimana merupakan bagian dari gaya hidup atau ciri khusus suatu kelompok (Astawan, 1998).
Distribusi balita berdasarkan pola makan di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9.    Distribusi Frekuensi Menurut Pola Makan Di Wilayah Kerja    Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
No     Pola Makan    Status Balita    OR
    CI 95 %
        Kasus    Kontrol    13,6    2,57 - 72,39
        n    %    n    %       
1
2    Kurang
Cukup    21
2    91,3
8,7    10
13    43,5
56,5       
Total    23    100    23    100       
    Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009

Tabel 9 menunjukkan bahwa dari 23 balita yang termasuk kelompok kasus, sebagian besar balita yaitu 21 (91,3%) balita pola makannya kurang dan 2 (8,7%) balita  dengan pola makan cukup. Sedangkan pada kelompok kontrol dari 23 balita yang termasuk kelompok kontrol, terdapat 10 (43,5%) balita  pola makannya kurang, dan 13 (56,5%) balita  yang  pola makannya cukup. Hasil  uji  statistik bermakna pada tingkat kepercayaan 95%, karena lower limit dan upper limit tidak mencakup nilai 1, dengan nilai OR=13,6 (2,57<OR<72,39).
Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa balita dengan pola makan kurang memiliki risiko kejadian gizi buruk 13,6 kali daripada balita dengan pola makan cukup. Hal tersebut dapat  dikatakan bahwa sampel yang pola makannya kurang, memiliki peluang 13,6 kali berisiko untuk menderita gizi buruk dibanding balita yang pola makannya cukup. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Manjilala (2007) yang dari penelitiannya berkesimpulan bahwa status gizi balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mamajang dipengaruhi oleh pola makan balita.  
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pada kelompok kasus sebagian besar balita memiliki pola makan yang kurang hal ini disebabkan oleh karena pola hidangan sehari-hari yang tidak tepat dan frekuensi makan balita dalam sehari terhadap bahan makanan yang mengandung zat-zat gizi seperti makanan pokok,lauk pauk, sayuran dan buah masih kurang yang pada umumnya diberikan tidak tentu, hal inilah yang menjadi pemicu terjadinya gizi buruk pada balita.
Pada kelompok kasus juga terdapat balita yang pola makannya cukup sebanyak 2 (8,7%) balita.  Balita tersebut pola makannya telah cukup, tetapi masih menderita gizi buruk. Hal ini di duga disebabkan karena pola makan yang cukup bukan satu-satunya faktor yang menjadikan balita terhindar dari kejadian gizi buruk, tetapi ada beberapa faktor lain seperti salah satunya adalah penyakit infeksi. Adanya penyakit infeksi seperti ISPA maupun diare pada balita menyebabkan makanan yang dikonsumsi balita akan terhambat penyerapannya dan energi didapatkan dari makanan akan habis atau berkurang.
b.    Faktor risiko pengetahuan ibu tentang gizi dengan kejadian gizi buruk pada balita

Pengetahuan adalah merupakan hasil ”tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut di atas (Notoatmodjo, 2003).
Distribusi balita berdasarkan pengetahuan ibu tentang gizi di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 10. Distribusi  Frekuensi  Menurut  Pengetahuan  Ibu  Tentang  Gizi Di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
No     Pengetahuan Ibu Tentang Gizi    Status Balita    OR    CI 95%
        Kasus    Kontrol    13,6     2,57 - 72,39
        n    %    n    %       
1
2    Kurang
Cukup    13
10    56,5
43,5    2
21    8,7
91,3       
Total    23    100    23    100       
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Dari tabel 10 menunjukkan bahwa dari 23 ibu balita yang termasuk kelompok kasus, terdapat 13 (56,5%) ibu balita dengan tingkat pengetahuan yang kurang dan 10 (43,5%) ibu balita dengan  tingkat pengetahuan cukup. Sedangkan pada kelompok kontrol, dari 23 ibu balita yang termasuk kelompok kontrol, sebagian besar (91,3%) ibu balita mempunyai tingkat pengetahuan cukup dan 2 (8,7%) ibu balita dengan tingkat pengetahuan yang kurang. Hasil  uji  statistik  bermakna pada tingkat kepercayaan 95% karena lower limit dan upper limit tidak mencakup nilai 1, dengan nilai OR = 13,6 (2,57<OR<72,39).  
Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan gizi ibu merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa ibu yang kurang pengetahuan gizinya berisiko mengalami kejadian gizi buruk pada balita 13,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang berpengetahuan gizi cukup.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Yuliati (2008) yang dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang gizi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kecamatan Mandonga tahun 2008. Pengetahuan ibu tentang gizi yang cukup akan membantu ibu khususnya dalam hal pemenuhan zat-zat gizi dalam penyediaan makanan sehari-hari, karena dengan hal itu ibu akan mengetahui pola pemberian makanan yang memiliki gizi kepada balita maupun keluarga  sehingga pemenuhan gizi bagi keluarga akan terjadi dan dengan hal ini akan membuat kecukupan gizi bagi balita dan keluarga akan terpenuhi.
Pengetahuan ibu tentang gizi yang cukup akan memberikan pengaruh  pada status gizi anak yang lebih baik jika dibandingkan dengan ibu yang memiliki pengetahuan tentang gizi yang kurang. Hal   ini disebabkan karena ibu yang memiliki pengetahuan gizi yang cukup akan lebih memiliki informasi yang terkait dengan pemenuhan gizi balita dengan baik dan tentunya akan berpengaruh pada proses praktek  pengelolaan makanan di rumahnya mulai dari persiapan sampai dengan pendistribusiannya pada setiap anggota rumah tangga khusunya kepada balitanya, bila dibandingkan dengan ibu yang memilki pengetahuan tentang gizi yang kurang.
Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal, pemeliharaan dan energi. Banyak para peneliti menemukan masalah gizi buruk disebabkan karena ketidaktahuan terhadap gizi sehingga banyak jenis-jenis bahan makanan yang tidak dimanfaatkan untuk konsumsi anak .
c.    Faktor risiko tingkat pendapatan keluarga dengan kejadian gizi buruk pada balita

Tingkat pendapatan adalah total jumlah pendapatan dari semua anggota keluarga , termasuk semua jenis pemasukan yang diterima oleh keluarga dalam bentuk uang, hasil menjual barang, pinjaman dan lain-lain (Thaha, 1996 dalam Rasifa 2006).
Distribusi balita berdasarkan Tingkat Pendapatan di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari dapat dilihat pada tabel 11.










Tabel 11.  Distribusi Frekuensi Menurut Tingkat Pendapatan Keluarga  Di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
No     Pendapatan Keluarga    Status Balita    OR    CI 95%
        Kasus    Kontrol    1,57    0,23 – 10,43
        n    %    n    %       
1
2    Kurang
Cukup    21
2    91,3
8,7    20
3    87,0
13,0       
Total    23    100    23    100       
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Dari tabel 11 menunjukkan bahwa dari 23 balita yang termasuk kelompok kasus, sebagian besar (91,3%) tingkat pendapatan keluarga responden masih kurang dan hanya 2 (8,7%) responden dengan tingkat pendapatan yang cukup. Sedangkan dari 23 balita yang termasuk kelompok kontrol, sebagian besar (87,0%) responden dengan tingkat pendapatan yang kurang dan hanya 3 (13,0%) responden dengan tingkat pendapatan yang cukup. Hasil  uji  statistik tidak bermakna secara signifikan pada tingkat kepercayaan 95% karena lower limit  mencakup nilai 1, sedangkan nilai OR = 1,57 (0,23<OR<10,43). 
Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat pendapatan keluarga merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa responden yang kurang tingkat pendapatan keluarganya kurang berisiko mengalami kejadian gizi buruk pada balita 1,57 kali lebih tinggi dibanding dengan responden yang mempunyai tingkat pendapatan keluarganya cukup. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Yuliati (2008) yang dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tingkat pendapatan keluarga merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kecamatan Mandonga tahun 2008.
Dari hasil penelitian juga terdapat responden yang mempunyai tingkat pendapatan yang cukup tetapi balita berstatus gizi buruk, ini disebabkan karena faktor lain seperti balita yang malas makan, kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi, pemberian makanan yang tidak tentu pada balita anak, serta balita menderita penyakit infeksi.
Tingkat pendapatan keluarga akan mempengaruhi mutu fasilitas perumahan, penyediaan air bersih dan sanitasi yang pada dasarnya sangat berperan terhadap timbulnya penyakit infeksi. Selain itu, penghasilan keluarga akan menentukan daya beli keluarga termasuk makanan, sehingga mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan yang tersedia dalam rumah tangga dan pada akhirnya mempengaruhi asupan zat gizi (Suhardjo dalam Yuliati, 2008).


d.    Faktor risiko penyakit infeksi dengan kejadian gizi buruk pada balita

Infeksi adalah masuknya, bertumbuh dan berkembangnya agent penyakit menular dalam tubuh manusia atau hewan. Infeksi tidaklah sama dengan penyakit menular karena akibatnya mungkin tidak kelihatan atau nyata. Adanya kehidupan agent menular pada permukaan luar tubuh, atau pada barang,  pakaian atau barang-barang lainnya, bukanlah infeksi, tetapi merupakan kontaminasi pada permukaan tubuh atau benda (Noor, 1997).
Distribusi balita berdasarkan faktor risiko penyakit infeksi di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel 12.    Distribusi  Frekuensi  Menurut  Penyakit  Infeksi  Di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
No     Penyakit Infeksi    Status Balita    OR    CI 95%
        Kasus    Kontrol    2,9    0,50 – 16,89
        n    %    n    %       
1
2    Ya
Tidak    21
2    91,3
8,7    18
5    78,3
21,7       
Total    23    100    23    100       
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Data tabel 12 menunjukkan bahwa dari 23 balita yang termasuk kelompok kasus,  sebagian besar (91,3%) sampel menderita penyakit infeksi dan hanya 2 (8,7%) tidak menderita penyakit infeksi. Sedangkan dari 23 balita yang termasuk kelompok kontrol, sebagian besar (78,3%) yang menderita penyakit infeksi dan hanya 5 (21,7%) yang tidak menderita penyakit infeksi. Hasil uji statistik tidak bermakna secara signifikan pada tingkat kepercayaan 95% karena lower limit mencakup nilai 1, sedangkan nilai OR = 2,9 (0,50<OR<16,89).
Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyakit infeksi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa sampel yang menderita penyakit infeksi berisiko mengalami kejadian gizi buruk 2,9 kali lebih tinggi dibanding dengan sampel yang tidak menderita penyakit infeksi.
Data penyakit infeksi diperoleh melalui keterangan dari responden dan didukung oleh data dari catatan medik (medical record) sampel Puskesmas Mata. Adapun jenis penyakit infeksi yang diderita oleh sampel adalah ISPA sebanyak 32 (69,6%) balita, diare sebanyak 5 (10,9%) balita dan cacar sebanyak 2 (4,3%) balita  .
Terjadinya hubungan timbal balik antara kejadian infeksi penyakit dan gizi kurang maupun gizi buruk.Anak yang menderita gizi kurang dan gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan, sehingga rentan terhadap penyakit infeksi. Di sisi lain anak yang menderita sakit infeksi akan cenderung menderita gizi buruk (Depkes dalam Yuliaty 2008).
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Yuliati (2008) yang dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penyakit infeksi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kecamatan Mandonga tahun 2008. Penelitian yang dilakukan oleh Asni (2006) di Kecamatan Sangia Wambulu juga menunjukkan bahwa anak balita yang menderita penyakit infeksi, memiliki resiko 4,49 kali untuk menderita kekurangan gizi dibandingkan dengan anak balita yang tidak menderita penyakit infeksi.
Penyakit infeksi banyak diderita oleh balita pada saat penelitian disebabkan adanya perubahan cuaca sehingga sangat mempengaruhi kondisi kesehatan. Hal ini karena daya tahan tubuh menurun, sehingga banyak balita dan juga orang dewasa kebanyakan menderita batuk dan pilek terutama  pada anak yang berstatus gizi buruk, sehingga terdapat balita pada kelompok kontrol yang menderita penyakit infeksi juga.
Pada anak yang menderita infeksi terjadi gangguan pada pertahanan tubuh dan  sebagai akibatnya akan terjadi penurunan berat badan dalam waktu yang singkat sehingga menyebabkan kekurangan gizi. Di lain pihak, infeksi akan memberikan efek berupa gangguan pada tubuh, yang dapat menyebabkan kekurangan gizi. Penyakit infeksi dapat menyebabkan kurang gizi sebaliknya kurang gizi juga menyebabkan penyakit infeksi.
Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan pada saat penelitian diketahui bahwa balita berstatus gizi buruk pada umumnya ditemui dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi dengan berbagai kondisi yang dapat menyebabkan status kesehatan yang jelek dan menyebabkan penyakit infeksi seperti sanitasi lingkungan perumahan yang sangat tidak memadai.











V. PENUTUP

A.    Simpulan
Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.    Pola makan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008. Pola makan yang kurang, berisiko mengalami kejadian gizi buruk pada balita 13,6 kali jika dibandingkan dengan balita yang pola makannya cukup.
2.    Pengetahuan ibu tentang gizi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008. Ibu dengan pengetahuan gizi yang kurang, berisiko mengalami kejadian gizi buruk pada balita 13,6 kali jika dibandingkan dengan ibu dengan pengetahuan gizi yang cukup.
3.    Tingkat pendapatan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008. Pendapatan keluarga yang kurang pada responden, berisiko mengalami kejadian gizi buruk pada balita 1,57 kali jika dibandingkan dengan pendapatan keluarga yang cukup pada responden.
4.    Penyakit infeksi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008. Balita yang menderita penyakit infeksi, berisiko mengalami kejadian gizi buruk 2,9 kali jika dibandingkan dengan  balita yang tidak menderita penyakit infeksi.

B.    Saran
    Berdasarkan kesimpulan diatas, dibuat saran penelitian sebagai berikut :
1.    Bagi masyarakat yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari, agar meningkatkan konsumsi makanan balita baik secara kuantitas maupun kualitas sesuai dengan kebutuhannya, dan juga menggalakkan sadar gizi dalam keluarga guna memperbaiki pola makan bagi balita.
2.     Bagi ibu-ibu balita yang ada di wilayah kerja Puskesmas Mata agar senantiasa meningkatkan pengetahuannya tentang gizi bagi keluarga dan balita melalui berbagai media maupun dengan mengikuti penyuluhan kesehatan tentang gizi oleh tenaga kesehatan agar menambah pengetahuan dalam hal pemenuhan gizi keluarga dan balita.    
3.    Bagi masyarakat yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari, agar mengatur pendapatan keluarga guna mendukung pemenuhan gizi yang baik dalam keluarga khususnya bagi balitanya.
4.    Bagi masyarakat yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari, agar senantiasa meningkatkan upaya preventif (pencegahan) terhadap penyakit infeksi dengan menerapkan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat.
5.    Bagi peneliti lain yang tertarik dengan masalah gizi buruk pada balita dapat mengambil variabel lain sebagai variabel bebas penelitian karena masih banyak faktor-faktor yang berkaitan dengan terjadinya gizi buruk pada balita.


















DAFTAR PUSTAKA


Aditama, T.Y dan Tri Hastuti, 2002. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. UI-Press. Jakarta.
Almatsier, S, 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Ariani, M, 2007. Wilayah Rawan Pangan dan Gizi Kronis di Papua, Kalimantan Barat dan Jawa Timur. Pusat Analisis dan Kebijakan Pertanian Departemen Pertanian.Bogor.

Astawan, M, 1998. Gizi dan Kesehatan Manula. Medyatama Sarana Pustaka. Jakarta.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2007. Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta. 

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI, 2008. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Jakarta.

Chandra, 1996. Pengantar Prinsip dan Metodologi Epidemiologi. Penerbit EGC. Jakarta.

Cookeyzone, 2009. Pengertian Profesi dan Pekerjaan. www. Cookeyzone. Blogspot. Com.

Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Kendari, 2009. UMK (Upah Minimum Kota) Kendari. Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Kendari. Kendari.

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Serang, 2008. Profil Penduduk Kabupaten Serang. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Serang. Banten.

Irwandy, 2007. Sulawesi Selatan Daerah Penghasil Pangan dan Gizi Buruk. Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Makassar.

Kartasapoetra, G, 2002. Ilmu Gizi (Korelasi Gizi, Kesehatan dan Produktivitas Kerja). PT. Rineka Cipta. Jakarta.

Khomsan, dkk, 2004. Pengantar Pangan dan Gizi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Khumaidi, M, 1994. Gizi Masyarakat. PT. BPK Gunung Mulia. Jakarta.
Komsiah, S, 2008. Pengantar Sosiologi. Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercubuana. Jakarta.

Malik, A, 2008. Gizi Buruk Tewaskan 3,5 Juta Balita Per tahun. www.lifestyle.okezone.com.

Mangkunegara, A.P, 2003. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Refika Aditama. Bandung.

Mardiansyah, L, 2008. Gizi Buruk di Indonesia.  SMP 167. Jakarta.
Multono, 2000. Ilmu Kebidanan Edisi 3. Gramedia. Jakarta.

Nency, Y., 2005, Gizi Buruk Ancaman Generasi Yang Hilang,
    http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=113, 5 November 2005

Noor, N, 1997. Epidemiologi Penyakit Menular. Rineka Cipta. Jakarta.

Notoadmodjo, S, 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Pudjiadi, S, 2003. Ilmu Gizi Khusus Pada Anak. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.

Rasifa, 2006. Hubungan Sosial Ekonomi Keluarga dengan Status Gizi Balita Berdasarkan Indeks Tinggi Badan Menurut Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Betoambari, Kec. Betoambari Kota Bau Bau Tahun 2006. Skripsi yang tidak diterbitkan Universitas Haluoleo. Kendari.

Sadewa, A.L., 2008, Makalah KEP,
    http://ayahaja.wordress.com, 28 November 2008.

Santoso, S dan Anne Lies Ranti, 2004. Kesehatan dan Gizi. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Suhardjo, 2002. Berbagai Cara Pendidikan Gizi. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.

    , 2003. Perencanaan Pangan dan Gizi. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.

Supariasa, dkk, 2001. Penilaian Status Gizi. Penerbit EGC. Jakarta.

Yuliati, 2008. Faktor Risiko Kejadian Gizi Buruk Pada Balita di Kecamatan Mandonga Kota Kendari Tahun 2008. Skripsi yang tidak diterbitkan Universitas Haluoleo. Kendari.


























LAMPIRAN -LAMPIRAN

























LAMPIRAN I

NASKAH PENJELASAN UNTUK MENDAPATKAN PERSETUJUAN SUBJEK DAN FORMULIR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (INFORMED CONSENT)


Kami meminta anda untuk turut mengambil bagian dalam suatu penelitian berjudul : ” Faktor- Faktor Resiko Kejadian Gizi Buruk Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 ”.

WAWANCARA
Dalam penelitian ini dilakukan wawancara untuk mengetahui pola makan, pengetahuan ibu tentang gizi, tingkat pendapatan dan penyakit infeksi. Pelaksanaan wawancara hanya dilaksanakan 3 (tiga) hari saja.

MANFAAT
Informasi yang anada berikan akan sangat bermanfaat sebagai salah satu sumber pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan upaya pencegahan dan perbaikan status gizi buruk pada balita dan merupakan sumber informasi bagi pembuat kebijakan khususnya Dinas Kesehatan Kota Kendari dan instansi terkait lainnya dalam upaya menanggulangi masalah gizi balita di Kota Kendari.

KERAHASIAAN
Catatan mengenai kerahasiaan dan keterlibatan anda dalam penelitian ini akan dirahasiakan.

PARTISIPASI SUKARELA
Anda tidak akan dipaksa untuk ikut dalam penelitian ini bila anda tidak menghendakinya . Anda hanya boleh ikut atas kehendak anda sendiri. Anda berhak sewaktu-waktu menolak melanjutkan partisipasi anda tanpa perlu memberikan alasan.

TANDA TANGAN
Saya telah membaca, atau dibacakan pada saya apa yang telah tetera di atas ini dan saya telah diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan membicarakan penelitian ini dengan peneliti. Dengan membubuhkan tanda tangan saya di bawah ini, saya menegaskan keikutsertaan saya secara sukarela dalam penelitian ini.  

    Kendari,         Maret 2009
I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Derajat kesehatan yang tinggi dalam pembangunan ditujukan  untuk  mewujudkan  manusia  yang  sehat,  cerdas,  dan  produktif. Salah satu unsur penting dari kesehatan  adalah masalah  gizi. Gizi sangat penting  bagi  kehidupan.  Kekurangan  gizi  pada  anak  dapat  menimbulkan beberapa   efek   negatif   seperti   lambatnya   pertumbuhan   badan,   rawan terhadap   penyakit,   menurunnya   tingkat   kecerdasan,   dan   terganggunya mental  anak.  Kekurangan  gizi  yang  serius  dapat  menyebabkan  kematian anak  (Suwiji, 2006)
Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber  daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, serta cerdas. Bukti empiris menunjukkan bahwa hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik.  Status gizi yang baik ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang dikonsumsi. Masalah gizi kurang dan buruk dipengaruhi langsung oleh faktor konsumsi pangan dan penyakit infeksi. Secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola asuh, ketersediaan pangan, faktor sosial ekonomi, budaya dan politik. Apabila gizi kurang dan gizi buruk terus terjadi dapat menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional. Secara perlahan kekurangan gizi akan berdampak pada tingginya angka kematian ibu, bayi, dan balita, serta rendahnya umur harapan hidup. Selain itu, dampak kekurangan gizi terlihat juga pada rendahnya partisipasi sekolah, rendahnya pendidikan, serta lambatnya pertumbuhan ekonomi (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2007 ).
Kesepakatan global berupa Millenium Development Goals (MDGS)  yang terdiri dari 8 tujuan,  18 target dan 48 indikator, menegaskan bahwa  pada tahun 2015 setiap negara menurunkan kemiskinan dan kelaparan separuh dari kondisi pada tahun 1990. Untuk Indonesia, indikator yang digunakan adalah peresentase anak berusia di bawah 5 tahun (balita) yang mengalami gizi buruk (severe underweight) dan persentase anak-anak berusia 5 tahun (balita) yang mengalami gizi kurang (moderate underweight) (Ariani, 2007).   
Masalah gizi di Indonesia yang terbanyak meliputi gizi kurang atau yang mencakup susunan hidangan yang tidak seimbang maupun konsumsi keseluruhan yang  tidak  mencukupi  kebutuhan  badan.  Anak  balita  (1-5  tahun)  merupakan kelompok umur yang paling sering menderita akibat kekurangan gizi (KEP) atau termasuk salah satu kelompok masyarakat yang rentan gizi. (Himawan, 2006).
Masalah gizi makin lama makin disadari sebagai salah satu faktor penghambat proses pembangunan nasional. Masalah gizi yang timbul dapat memberikan berbagai dampak diantaranya meningkatnya Angka Kematian Bayi dan Anak, terganggunya pertumbuhan dan menurunnya daya kerja, gangguan pada perkembangan mental dan kecerdasan anak serta terdapatnya berbagai penyakit tertentu yang diakibatkan kurangnya asupan gizi. Masalah kekurangan zat gizi ada 4 yang dianggap sangat penting yaitu; kurang energi-protein, kurang Vitamin A, kurang Yodium (Gondok Endemik) dan kurang zat besi (Anemia Gizi Besi), (Paramata, 2009).
Kurang gizi atau gizi buruk dinyatakan sebagai penyebab tewasnya 3,5 juta anak di bawah usia lima tahun (balita) di dunia. Mayoritas kasus fatal gizi buruk berada di 20 negara, yang merupakan negara target bantuan untuk masalah pangan dan nutrisi. Negara tersebut meliputi wilayah Afrika, Asia Selatan, Myanmar, Korea Utara, dan Indonesia. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Inggris The Lanchet ini mengungkapkan, kebanyakan kasus fatal tersebut secara tidak langsung menimpa keluarga miskin yang tidak mampu atau lambat untuk berobat, kekurangan vitamin A dan zinc selama ibu mengandung balita, serta menimpa anak pada usia dua tahun pertama. Angka kematian balita karena gizi buruk ini terhitung lebih dari sepertiga kasus kematian anak di seluruh dunia (Malik, 2008).
Berbagai penelitian membuktikan lebih dari separuh kematian bayi dan balita disebabkan oleh keadaan gizi yang jelek. Resiko meninggal dari anak yang bergizi buruk 13 kali lebih besar dibandingkan anak yang normal. WHO memperkirakan bahwa 54% penyebab kematian bayi dan balita didasari oleh keadaan gizi anak yang jelek (Irwandy, 2007).
Prevalensi nasional Gizi Buruk pada Balita adalah 5,4%, dan Gizi Kurang pada Balita adalah 13,0%. Keduanya menunjukkan bahwa baik target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi (20%), maupun target Millenium Development Goals pada 2015 (18,5%) telah tercapai pada 2007. Namun demikian, sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara,Sumatera Barat, Riau, Jambi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI, 2008).
Tahun 2005 ditemukan 1,8 juta balita  dengan status gizi buruk, dan dalam waktu yang sangat singkat menjadi 2,3 juta di tahun 2006. Sekitar 37,3 juta penduduk hidup dibawah garis kemiskinan, separo dari total rumah tangga mengkonsumsi kurang dari kebutuhan sehari-hari, 5 juta balita berstatus gizi kurang, dan lebih dari 100 juta penduduk berisiko terhadap berbagai masalah kurang gizi (Hadi, 2005).
Hasil pemantauan Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo tahun 2007 dari 24.248 balita yang ditimbang se Kabupaten Gorontalo, 494 balita atau dua persen diantaranya mengalami gizi buruk. Selain dibeberapa daerah kabupaten juga banyak ditemukan kasus gizi buruk misalnya di kabupaten Bone Bolango.
Berdasarkan data yang diperoleh dari survey Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2009 bahwa jumlah balita di kabupaten Boalemo yaitu 11.657 jiwa, dimana penderita gizi buruk sebanyak 628 (5,4 %) jiwa dan jumlah penderita gizi kurang sebanyak 2.493 (21,4 %) jiwa.
Data mengenai status gizi balita di Puskesmas Dulupi Kecamatan Dulupi tahun 2009 menunjukkan dari sejumlah 823 balita terdapat 426 balita gizi baik, 133 balita gizi kurang (16,16%) dan 56 balita gizi buruk (6,3%). Dari data di atas dapat dilihat bahwa masih tingginya jumlah kasus, baik kasus gizi kurang maupun kasus gizi buruk pada tahun 2009 di wilayah kerja Puskesmas Dulupi. Dari jumlah penderita gizi buruk diatas, dapat dikategorikan masih tinggi dibanding jumlah standar nasional yang ditetapkan  yaitu <1% dan untuk kejadian gizi kurang <15%.
Dari latar belakang inilah maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor Risiko kejadian gizi buruk pada balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Dulupi Kecamatan Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009 di tinjau dari pola makan, tingkat pengetahuan gizi ibu, tingkat pendapatan, dan penyakit infeksi.





B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, penelitian ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan sebagai berikut:
1.    Berapa besar faktor risiko pola makan terhadap kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009?
2.    Berapa besar faktor risiko tingkat pengetahuan gizi ibu dengan kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009?
3.    Berapa besar faktor risiko tingkat pendapatan terhadap pola asuh ibu dengan kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009?
4.    Berapa besar faktor risiko tingkat penyakit infeksi terhadap pola asuh ibu dengan kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009?
C.    Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum

Untuk mengetahui Faktor Risiko Kejadian Gizi Buruk Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Dulupi Kecamatan Dulupi Kabupaten Boalemo Tahun 2009 ditinjau dari Pola Makan, Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu, Tingkat Pendapatan, dan Penyakit Infeksi.


2.    Tujuan Khusus

a.    Untuk mengetahui faktor risiko pola makan terhadap kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009.
b.    Untuk mengetahui faktor risiko tingkat pengetahuan gizi ibu terhadap kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009
c.    Untuk mengetahui faktor risiko tingkat pendapatan terhadap kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009
d.    Untuk mengetahui faktor risiko penyakit infeksi terhadap kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009
D.    Manfaat Penelitian

1.    Manfaat Ilmiah
Hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan menjadi salah satu sumber bacaan bagi para peneliti dimasa yang akan datang.
2.    Manfaat Institusi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Boalemo khususnya bagi Puskesmas Paguyaman Pantai serta pihak lain dalam menentukan kebijakan untuk menekan dan menangani kasus gizi buruk dan gizi kurang pada bayi/anak balita.
3.    Manfaat Praktis
Untuk mengetahui dan mendapatkan pengalaman yang nyata dalam melakukan penelitian khususnya mengenai beberapa faktor yang berhubungan dengan status gizi balita.















BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

A.    Kajian Pustaka
1.    Pengertian status gizi
    Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Dibedakan antara status gizi buruk, kurang, baik, dan lebih. Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang . Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Status gizi kurang terjagi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial. Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan, sehingga menimbulkan efek toksis atau membahayakan. Gangguan gizi terjadi baik pada status gizi kurang, maupun status gizi lebih (Almatsier, 2004).
    2.    Penilaian status gizi           
Penilaian status gizi terbagi atas penilaian secara langsung dan penilaian secara tidak langsung. Adapun penilaian secara langsung dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia dan biofisik. Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung terbagi atas tiga yaitu survei konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi.
a.    Penilaian secara langsung
1)    Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa, dkk., 2006).
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks antropometri.
Rekomendasi dalam menilai status gizi anak di bawah lima tahun yang dianjurkan untuk digunakan di Indonesia adalah baku World Health Organization-National Centre for Health Statistic (WHO-NCHS).
Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).




Tabel 1. Klasifikasi Status Gizi Anak (Balita)
INDEKS    STATUS GIZI    AMBANG BATAS
 Berat badan menurut umur
(BB/U)    Gizi lebih    >+ 2 Standar Deviasi (SD)
    Gizi baik     - 2 SD Sampai + 2 SD
    Gizi kurang    < -2 SD Sampai   -3 SD

    Gizi buruk    < -3 SD
 Tinggi badan menurut umur
 (TB/U)    Normal      -2 SD

    Pendek (Stunted)    < -2 SD
 Berat badan menurut tinggi
 badan (BB/TB)    Gemuk    > + 2 SD
    Normal      + 2 SD Sampai - 2 SD
    Kurus (Wasted)    < -2 SD Sampai   -3 SD

    Kurus sekali    < -3 SD
Sumber : Keputusan Menkes RI No. 920/Menkes/SK/VII/2002   

a)    Indeks berat badan menurut umur (BB/U)

Merupakan pengukuran antropometri yang sering digunakan sebagai indikator dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan dan keseimbangan antara intake dan kebutuhan gizi terjamin. Berat badan memberikan gambaran tentang massa tubuh (otot dan lemak). Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan yang mendadak, misalnya terserang infeksi, kurang nafsu makan dan menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. BB/U lebih menggambarkan status gizi sekarang. Berat badan yang bersifat labil, menyebabkan indeks ini lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini (Current Nutritional Status) (Supariasa, dkk., 2006).
b)    Indeks tinggi badan menurut umur (TB/U)
Indeks TB/U  disamping memberikan status gizi masa lampau, juga lebih erat kaitannya dengan status ekonomi (Beaton dan Bengoa (1973) dalam Supariasa, dkk. (2006)).
c)    Indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)   
Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu (Supariasa, dkk., 2006).
Berbagai    indeks antropometri, untuk menginterpretasinya  dibutuhkan ambang batas. Penentuan ambang batas yang paling umum digunakan saat ini adalah dengan memakai standar deviasi unit (SD) atau disebut juga Z-Skor.
Rumus perhitungan Z-Skor adalah :  
Z-Skor    =    Nilai individu subyek-Nilai median Baku Rujukan
                 Nilai Simpang Baku Rujukan

2)    Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi . Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid (Supariasa, dkk.,2006).
Pemeriksaan klinis meliputi pemeriksaan fisik secara menyeluruh, termasuk riwayat kesehatan. Bagian tubuh yang harus lebih diperhatikan dalam pemeriksaan klinis adalah kulit, gigi, gusi,bibir, lidah, mata (Arisman dalam Yuliaty, 2008).
3)    Biokimia   
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot (Supariasa, dkk., 2006). 
4)    Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan (Supariasa, dkk., 2006).


b.    Penilaian secara tidak langsung
    1)    Survei konsumsi makanan
            Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. Metode survei konsumsi makanan untu individu antara lain :
a)    Metode recall 24 jam
b)    Metode esthimated food record
c)    Metode penimbangan makanan (food weighting)
d)    Metode dietary history
e)    Metode frekuensi makanan (food frequency).
2)    Statistik vital
Pengukuran gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian sebagai akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi (Supariasa, dkk., 2006).
3)    Faktor ekologi
Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dan lain-lain (Supariasa, dkk., 2006).
A.    Tinjauan Tentang Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Gizi Buruk   
    Berdasarkan hasil studi kepustakaan yang telah ditemukan sebelumnya yaitu beberapa variabel bebas (independen) yang merupakan faktor- faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi buruk pada balita.
1.    Tinjauan Tentang Pola Makan
Pola makan adalah gambaran pola menu, frekuensi, dan jenis bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari dimana merupakan bagian dari gaya hidup atau ciri khusus suatu kelompok (Astawan, 2005).
Pola makan adalah cara individu atau kelompok individu memilih bahan makanan dan mengkonsumsinya sebagai tanggapan dari pengaruh fisiologi, sosial dan budaya diukur dengan frekuensi, jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari (Suhardjo, 2005).
Pola makan merupakan ciri khas untuk status kelompok masyarakat tertentu. Pola makan suatu daerah dapat berubah-ubah. Pola makan masyarakat pedesaan di Indonesia pada umumnya diwarnai oleh jenis-jenis bahan makanan yang umum dan diproduksi setempat. Misalnya pada masyarakat nelayan di daerah-daerah pantai ikan merupakan makanan sehari-hari yang dipilih karena dapat dihasilkan sendiri. Daerah-daerah pertanian padi , masyarakat berpola makan pokok beras. Daerah-daerah dengan produk utama jagung seperti pulau Madura dan Jawa Timur bagian selatan, masyarakatnya berpola pangan pokok jagung. Gunung Kidul dan beberapa daerah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur masyarakatnya berpola pangan pokok ubi kayu karena produksi tanaman pangan utama adalah ubi kayu (Khumaidi, 2007).
Pengertian pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan tiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu. Pola makan ini dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain adalah : kebiasaan kesenangan, budaya, agama, taraf ekonomi, lingkungan alam, dan sebagainya. Sejak zaman dahulu kala, makanan selain untuk kekuatan/pertumbuhan, memenuhi rasa lapar, dan selera, juga mendapat tempat sebagai lambang yaitu lambang kemakmuran, kekuasaan, ketentraman dan persahabatan. Semua faktor di atas bercampur membentuk suatu ramuan yang kompak yang dapat disebut pola konsumsi (Santoso dan Ranti, 2005).
Pola makan di suatu daerah dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan beberapa faktor ataupun kondisi setempat, yang dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu pertama adalah faktor yang berhubungan dengan persediaan atau pengadaan bahan pangan. Termasuk di sini faktor geografi, iklim, kesuburan tanah berkaitan dengan produksi bahan makanan, sumber daya perairan, kemajuan teknologi, transportasi, distribusi, dan persediaan suatu daerah. Kedua, adalah faktor-faktor dan adat kebiasaan yang berhubungan dengan konsumen. Taraf sosio-ekonomi dan adat kebiasaan setempat memegang peranan penting dalam pola konsumsi penduduk. Ketiga, hal yang dapat berpengaruh di sini adalah bantuan atau subsidi terhadap bahan-bahan tertentu. Selain itu, pola makan setempat juga dapat diperkaya dengan pengaruh budaya asing yang datang dari India, Arab, Cina, dan Eropa (Santoso dan Ranti, 2005).
Pemilihan bahan makanan ternyata dipengaruhi oleh unsur-unsur tertentu. Pertama, sumber-sumber pengetahuan masyarakat dalam memilih dan mengolah pangan mereka sehari-hari. Termasuk dalam sumber pengetahuan dalam memilih dan mengolah pangan adalah : sistem sosial keluarga secara turun temurun, proses sosialisasi dan interaksi anggota keluarga dengan media massa. Kedua, aspek aset dan akses masyarakat terhadap pangan mereka sehari-hari. Unsur aset dan akses terhadap pangan adalah berkenaan dengan pemilikan dan peluang upaya yang dapat dimanfaatkan oleh keluarga guna melakukan budidaya tanaman pangan dan atau sumber nafkah yang menghasilkan bahan pangan atau natura (uang). Ketiga, pengaruh tokoh panutan atau yang berpengaruh. Pengaruh tokoh panutan terutama berkenaan dengan hubungan bapak anak, jika keluarga yang memperoleh pangan atau nafkah berupa uang kontan melalui usaha tani majikan (Santoso dan Ranti, 2005).
Kebiasaan makan adalah cara-cara individu dan kelompok individu memilih, mengkonsumsi, dan menggunakan makanan-makanan yang tersedia, yang didasarkan kepada faktor-faktor sosial dan budaya di mana ia/mereka hidup. Kebiasaan makan individu, keluarga dan masyarakat dipengaruhi oleh :
a)    Faktor perilaku termasuk di sini adalah cara berpikir, berperasaan, berpandangan tentang makanan. Kemudian dinyatakan dalam bentuk tindakan makan dan memilih makanan. Kejadian ini berulang kali dilakukan sehingga menjadi kebiasaan makan.
b)    Faktor lingkungan sosial, segi kependudukan dengan susunan, tingkat, dan sifat-sifatnya.
c)    Faktor lingkungan ekonomi, daya beli, ketersediaan uang kontan, dan sebagainya.
d)    Lingkungan ekologi, kondisi tanah, iklim, lingkungan biologi, system usaha tani, sistem pasar, dan sebagainya.
e)    Faktor ketersediaan bahan makanan, dipengaruhi oleh kondisi-kondisi yang bersifat hasil karya manusia seperti sistem pertanian (perladangan), prasarana dan sarana kehidupan (jalan raya dan lain-lain), perundang-undangan, dan pelayanan pemerintah.
f)    Faktor perkembangan teknologi, seperti bioteknologi yang menghasilkan jenis-jenis bahan makanan yang lebih praktis dan lebih bergizi, menarik, awet dan lainnya.
Pola makan masyarakat atau kelompok di mana anak berada, akan sangat mempengaruhi kebiasaan makan, selera, dan daya terima anak akan suatu makanan. Oleh karena itu, di lingkungan anak hidup terutama keluarga perlu pembiasaan makan anak yang memperhatikan kesehatan dan gizi (Santoso dan Ranti, 2005).                                
2.    Tinjauan Tentang Pengetahuan Ibu Tentang Gizi
Pengetahuan adalah merupakan hasil ”tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2006).
Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yakni :
a.    Tahu (Know) 
Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b.    Memahami (Comprehension)
Diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar.

c.    Aplikasi (Aplication)
Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
d.    Analisis (Analysis)
Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e.    Sintesis (Synthesis)
Menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
e.    Evaluasi (Evaluation)
Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut di atas (Notoatmodjo, 2006).
Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi didasarkan pada tiga kenyataan :
a)    Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan.
b)    Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal, pemeliharaan dan energi.
c)    Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan gizi.
Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum dijumpai setiap negara di dunia. Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi. Lain sebab yang penting dari gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Rendahnya pengetahuan gizi dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dalam keluarga, yang selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi pangan. Rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi pangan, merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita (Suhardjo, 2007).
3.    Tinjauan Tentang Tingkat Pendapatan 
Tingkat pendapatan adalah total jumlah pendapatan dari semua anggota keluarga , termasuk semua jenis pemasukan yang diterima oleh keluarga dalam bentuk uang, hasil menjual barang, pinjaman dan lain-lain (Thaha, 1996 dalam Rasifa 2006).
Rendahnya tingkat pendapatan keluarga, akan sangat berdampak rendahnya daya beli keluarga tersebut. Pada masyarakat nelayan, rendahnya tingkat pendapatan keluarga , sangat berdampak terhadap rendahnya rata-rata tingkat pendidikan, yang pada gilirannya akan berimplikasi terhadap rendahnya tingkat pengetahuan dan perilaku (khususnya pengetahuan dan perilaku gizi). Rendahnya pengetahuan gizi dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dalam keluarga , yang selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi pangan. Rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi pangan, merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita (Suhardjo, 2007).
Kehidupan di kota-kota pada dewasa ini, terutama dalam pemberian atau penyajian makanan keluarga pada kebanyakan penduduk dapat dikatakan masih kurang mencukupi yang dibutuhkan oleh tubuh masing-masing. Kebanyakan keluarga telah merasa lega kalau mereka telah dapat mengkonsumsi makanan pokok (nasi, jagung) dua kali dalam sehari dengan lauk pauknya kerupuk dan ikan asin, bahkan tidak jarang mereka juga telah merasa lega kalau mereka telah dapat mengkonsumsi nasi atau jagung cukup dengan sambal dan garam. Menurut penelitian, keadaan yang umum ini dikarenakan rendahnya pendapatan yang mereka peroleh dan banyaknya anggota keluarga yang harus diberi makan dengan jumlah pendapatan yang rendah. Penduduk kota dan penduduk pedesaan yang kebanyakan berpenghasilan rendah, selain memanfaatkan penghasilannya itu untuk keperluan makan keluarga, juga harus membagi-baginya untuk berbagai keperluan lainnya (pendidikan, transportasi, dan lain-lain), sehingga tidak jarang persentase penghasilan untuk keperluan untuk keperluan penyediaan makanan hanya kecil saja. Mereka pada umumnya hidup dengan makanan yang kurang bergizi (Kartasapoetra, 2007).
   Tingkat pendapatan keluarga akan mempengaruhi mutu fasilitas perumahan, penyediaan air bersih dan sanitasi yang pada dasarnya sangat berperan terhadap timbulnya penyakit infeksi. Selain itu, penghasilan keluarga akan menentukan daya beli keluarga termasuk makanan, sehingga mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan yang tersedia dalam rumah tangga dan pada akhirnya mempengaruhi asupan zat gizi (Suhardjo dalam Yuliati, 2008).
Berkaitan dengan besarnya pendapatan keluarga, pemerintah Kota Kendari berdasarkan Peraturan Gubernur No. 35 Tahun 2008, tanggal 5 Desember Tahun 2008 menetapkan Upah Minimum Kota (UMK) Kendari tahun 2009 sebesar Rp. 810.000,- per bulan (Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Kendari, 2009).
4.    Tinjauan Tentang Penyakit Infeksi
Infeksi adalah masuknya, bertumbuh dan berkembangnya agent penyakit menular dalam tubuh manusia atau hewan. Infeksi tidaklah sama dengan penyakit menular karena akibatnya mungkin tidak kelihatan atau nyata. Adanya kehidupan agent menular pada permukaan luar tubuh, atau pada barang,  pakaian atau barang-barang lainnya, bukanlah infeksi, tetapi merupakan kontaminasi pada permukaan tubuh atau benda (Noor, 2006).
Infeksi berat dapat memperjelek keadaan gizi melalui gangguan masukan makanannya dan meningkatnya kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. Sebaliknya malnutrisi walaupun ringan berpengaruh negatif terhadap daya tahan tubuh terhadap infeksi (Pudjiadi, 2007).
Ada hubungan yang sangat erat antara infeksi (bakteri, virus dan parasit) dengan malnutrisi. Mereka menekankan interaksi yang sinergis antara malnutrisi dengan penyakit infeksi, dan juga infeksi akan mempengaruhi status gizi dan mempercepat malnutrisi. Mekanisme patologisnya dapat bermacam-macam, baik secara sendiri-sendiri maupun bersamaan, yaitu : 
a.    Penurunan asupan zat gizi akibat kurangnya nafsu makan, menurunnya absorpsi, dan kebiasaan mengurangi makan pada saat sakit.
b.    Peningkatan kehilangan cairan/zat gizi akibat diare, mual/muntah dan pendarahan yang terus menerus.

   
c.    Meningkatnya kebutuhan, baik dari peningkatan kebutuhan akibat sakit (human host) dan parasit yang terdapat dalam tubuh.
Pada umumnya baik infeksi umum maupun infeksi lokal, dapat respon metabolik bagi penderitanya, yang disertai dengan kekurangan zat gizi. Penelitian yang dilakukan, ditemui bahwa kurang gizi, dapat menyebabkan gangguan pada pertahanan tubuh. Di lain pihak, pada infeksi akan memberikan efek berupa gangguan pada tubuh, yang dapat menyebabkan kekurangan gizi. Penyakit infeksi dapat menyebabkan kurang gizi sebaliknya kurang gizi juga menyebabkan penyakit infeksi. Ada tendensi di mana, adanya penyakit infeksi, malnutrisi (gizi lebih dan gizi kurang), yang terjadi secara bersamaan di mana akan bekerjasama (secara sinergis), hingga suatu penyakit infeksi yang baru akan menyebabkan kekurangan gizi yang lebih berat. Ini dikenal dengan siklus sinergis (vicious cycle) yang banyak dan sering terjadi di negara-negara berkembang, menyebabkan tingginya angka kematian di negara tersebut (Supariasa, 2005).
Terjadinya hubungan timbal balik antara kejadian infeksi penyakit dan gizi kurang maupun gizi buruk.Anak yang menderita gizi kurang dan gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan, sehingga rentan terhadap penyakit infeksi. Di sisi lain anak yang menderita sakit infeksi akan cenderung menderita gizi buruk (Depkes dalam Yuliaty 2008).

B.    Tinjauan Umum Tentang Gizi Buruk

1.  Pengertian gizi buruk
Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi, atau nutrisinya di bawah standar rata-rata. Status gizi buruk dibagi menjadi tiga bagian, yakni gizi buruk karena kekurangan protein (disebut kwashiorkor), karena kekurangan karbohidrat atau kalori (disebut marasmus), dan kekurangan kedua-duanya. Gizi buruk ini biasanya terjadi pada anak balita (bawah lima tahun) dan ditampakkan oleh membusungnya perut (busung lapar). Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Gizi buruk (severe malnutrition) adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun (Nency, 2005).
2.  Faktor-faktor penyebab gizi buruk
Gizi buruk disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama adalah faktor pengadaan makanan yang kurang mencukupi suatu wilayah tertentu. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kurangnya potensi alam atau kesalahan distribusi. Faktor kedua, adalah dari segi kesehatan sendiri, yakni adanya penyakit kronis terutama gangguan pada metabolisme atau penyerapan makanan. Selain itu, ada tiga hal yang saling kait mengkait dalam hal gizi buruk, yaitu kemiskinan, pendidikan rendah dan kesempatan kerja rendah. Ketiga hal itu mengakibatkan kurangnya ketersediaan pangan di rumah tangga dan pola asuh anak keliru. Hal ini mengakibatkan kurangnya asupan gizi dan balita sering terkena infeksi penyakit (Mardiansyah, 2008).
Gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. Secara garis besar penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang kurang atau anak sering sakit/terkena infeksi.
a.   Asupan yang kurang disebabkan oleh banyak faktor antara lain :
1)    Tidak tersedianya makanan secara adekuat, Tidak tersedianya makanan yang adekuat terkait langsung dengan kondisi sosial ekonomi. Kadang kadang bencana alam, perang, maupun kebijaksanaan politik maupun ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini. Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya makan yang adekuat. Data Indonesia dan negara lain menunjukkan bahwa adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Proporsi anak malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi.
2)    Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang, Makanan alamiah terbaik bagi bayi yaitu Air Susu Ibu, dan sesudah usia 6 bulan anak tidak mendapat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya akan berkonsekuensi terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam folat, vitamin B serta vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapat disiapkan sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan.
3)    Pola makan yang salah, Pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnya ASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknya lebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. Sebaliknya sebagian anak yang gizi buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuh yang juga miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya perempuan yang meninggalkan desa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapat menyebabkan anak menderita gizi buruk.
Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan / adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak . Misalnya kebiasaan memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini, berpantang pada makanan tertentu (misalnya tidak memberikan anak anak daging, telur, santan dll), hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan lemak, protein maupun kalori yang cukup.
b.      Sering sakit (frequent infection)
    Menjadi penyebab terpenting kedua kekurangan gizi, apalagi di negara negara terbelakang dan yang sedang berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan kebersihan / personal hygine yang masih kurang, serta ancaman endemisitas penyakit tertentu, khususnya infeksi kronik seperti misalnya tuberculosis (TBC) masih sangat tinggi. Kaitan infeksi dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan, karena keduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akan meyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan tubuh.
3.    Patofisiologi gizi buruk
Patofisiologi gizi buruk pada balita yaitu anak sulit makan atau anorexia bisa terjadi karena penyakit akibat defisiensi gizi, psikologik sperti suasana makan, pengaturan makanan dan lingkungan. Rambut mudah rontok dikarenakan kekurangan protein, vitamin A, vitamin C dan vitamin E. Karena keempat elemen ini meurpakan nutrisi yang penting bagi rambut. Pasien juga mengalami rabun senja. Rabun senja terjadi karena defisiensi vitamin A dan protein. Pada retina ada sel batang dan sel kerucut. Sel batang lebih hanya bida membedakan cahaya terang dan gelap. Sel batang atau rodopsin ini terbentuk dari vitamin A dan suatu protein. Jika cahaya terang mengenai sel rodopsin, maka sel tersebut akan terurai. Sel tersebut akan mengumpul lagi pada cahaya yang gelap. Inilah yang disebut adaptasi rodopsin. Adaptasi ini butuh waktu. Jadi, rabun senja terjadi karena kegagalan atau kemunduran adaptasi rodopsin.
Tugor atau elastisitas kulit jelek karena sel kekurangan air (dehidrasi). Reflek patella negatif terjadi karena kekurangan aktin myosin pada tendo patella dan degenerasi saraf motorik akibat dari kekurangn protein, Cu dan Mg seperti gangguan neurotransmitter. Sedangkan, hepatomegali terjadi karena kekurangan protein. Jika terjadi kekurangan protein, maka terjadi penurunan pembentukan lipoprotein. Hal ini membuat penurunan VLDL dan LDL. Karena penurunan VLDL dan LDL, maka lemak yang ada di hepar sulit ditransport ke jaringan-jaringan, pada akhirnya penumpukan lemak di hepar.
Yang khas pada penderita kwashiorkor adalah pitting edema. Pitting edema adalah edema yang jika ditekan, sulit kembali seperti semula. Pitting edema disebabkan oleh kurangnya protein, sehingga tekanan onkotik intravaskular menurun. Jika hal ini terjadi, maka terjadi ekstravasasi plasma ke intertisial. Plasma masuk ke intertisial, tidak ke intrasel, karena pada penderita kwashiorkor tidak ada kompensansi dari ginjal untuk reabsorpsi natrium. Padahal natrium berfungsi menjaga keseimbangan cairan tubuh. Pada penderita kwashiorkor, selain defisiensi protein juga defisiensi multinutrien. Ketika ditekan, maka plasma pada intertisial lari ke daerah sekitarnya karena tidak terfiksasi oleh membran sel. Untuk kembalinya membutuhkan waktu yang lama karena posisi sel yang rapat. Edema biasanya terjadi pada ekstremitas bawah karena pengaruh gaya gravitasi, tekanan hidrostatik dan onkotik (Sadewa, 2008).
4.    Gejala klinis gizi buruk
Gejala klinis gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan sebagai marasmus, kwashiorkor, atau marasmic-kwashiorkor. Tanpa mengukur atau melihat berat badan bila disertai edema yang bukan karena penyakit lain adalah KEP berat / gizi buruk tipe kwashiorkor.
a.     Kwashiorkor
a)     Edema, umumnya seluruh tubuh, terutama pada punggung kaki.
b)     Wajah membulat
c)     Pandangan mata sayu
d)     Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut     tanpa rasa sakit atau rontok
e)     Perubahan status mental, apatis, dan rewel
f)     Pembesaran hati
g)     Otot mengecil ( hipotrofi ), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk.
h)     Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas.
i)     Sering disertai : penyakit infeksi, anemia, diare.
b.     Marasmus
a)     Tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit
b)    Wajah seperti orangtua
c)     Cengeng, rewel
d)     Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada.
e)     Sering disertai : penyakit infeksi ( umumnya kronis berulang )
f)     Diare kronis atau konstipasi / susah buang air
c.     Marasmik-Kwashiorkor
         Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan marasmus, dengan BB/U <60% baku median WHO- NCHS disertai edema yang tidak mencolok.

5.     Dampak gizi buruk
Gizi Buruk bukan hanya menjadi stigma yang ditakuti, hal ini tentu saja terkait dengan dampak terhadap sosial ekonomi keluarga maupun negara, di samping berbagai konsekuensi yang diterima anak itu sendiri.
Kondisi gizi buruk akan mempengaruhi banyak organ dan sistem, karena kondisi gizi buruk ini juga sering disertai dengan defisiensi (kekurangan) asupan mikro/makro nutrien lain yang sangat diperlukan bagi tubuh. Gizi buruk akan memporak porandakan sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme maupun pertahanan mekanik sehingga mudah sekali terkena infeksi.
Secara garis besar, dalam kondisi akut, gizi buruk bisa mengancam jiwa karena berberbagai disfungsi yang di alami, ancaman yang timbul antara lain hipotermi (mudah kedinginan) karena jaringan lemaknya tipis, hipoglikemia (kadar gula dalam darah yang dibawah kadar normal) dan kekurangan elektrolit dan cairan tubuh. Jika fase akut tertangani dan namun tidak di follow up dengan baik akibatnya anak tidak dapat ”catch up” dan mengejar ketinggalannya maka dalam jangka panjang kondisi ini berdampak buruk terhadap pertumbuhan maupun perkembangannya.
Akibat gizi buruk terhadap pertumbuhan sangat merugikan performance anak, akibat kondisi ”stunting” (postur tubuh kecil pendek) yang diakibatkannya. Yang lebih memprihatinkan lagi, perkembangan anak pun terganggu. Efek malnutrisi terhadap perkembangan mental dan otak tergantung dangan derajat beratnya, lamanya dan waktu pertumbuhan otak itu sendiri. Dampak terhadap pertumbuhan otak ini menjadi vital karena otak adalah salah satu aset yang vital bagi anak.
Beberapa penelitian menjelaskan, dampak jangka pendek gizi buruk terhadap perkembangan anak adalah anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara dan gangguan perkembangan yang lain. Sedangkan dampak jangka panjang adalah penurunan skor tes IQ, penurunan perkembangn kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri dan tentu saja merosotnya prestasi anak (Nency, 2005).
6.    Pencegahan
    Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak:
1)     Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun.
2)     Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.
3)     Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke dokter.
4)     Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit.
5)     Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.
7.     Tindakan pemerintah untuk menanggulangi gizi buruk
Menurut Menteri Kesehatan RI, tanggung jawab pemerintah Pusat dalam hal ini Depkes adalah merencanakan dan menyediakan anggaran bagi keluarga miskin melalui Jaminan Kesehatan Masyarakat, membuat standar pelayanan, buku pedoman serta melakukan pembinaan dan supervisi program ke provinsi, kabupaten dan kota. Dalam kaitannya dengan gizi buruk, Depkes pada tahun 2005 telah mencanangkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk 2005–2009. Menkes menambahkan, pemerintah berusaha meningkatkan aktivitas pelayanan kesehatan dan gizi yang bermutu melalui penambahan anggaran penanggulangan gizi kurang dan gizi buruk menjadi Rp. 600 milyar pada tahun 2007 dari yang sebelumnya 63 milyar pada tahun 2001. Anggaran tersebut ditujukan untuk:
a)    Meningkatkan cakupan deteksi dini gizi buruk melalui penimbangan bulanan balita di posyandu.
b)    Meningkatkan cakupan dan kualitas tatalaksana kasus gizi buruk di Puskesmas/RS dan rumah tangga.
c)    Menyediakan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) kepada balita kurang gizi dari keluarga miskin.
d)    Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu dalam memberikan asuhan gizi kepada anak (ASI/MP-ASI).
e)    Memberikan suplementasi gizi (kapsul Vitamin A) kepada semua balita.
Adapun strategi dan kegiatan Depkes dan organ-organnya, untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut antara lain:
Strategi:
a.     Revitalisasi posyandu untuk mendukung pemantauan pertumbuhan
b.     Melibatkan peran aktif tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuka adat dan kelompok potensial lainnya.
c.     Meningkatkan cakupan dan kualitas melalui peningkatan keterampilan tatalaksana gizi buruk.
d.     Menyediakan sarana pendukung (sarana dan prasarana).
e.     Menyediakan dan melakukan KIE.
f.     Meningkatkan kewaspadaan dini KLB gizi buruk.
Kegiatan:
a.     Deteksi dini gizi buruk melalui bulan penimbangan balita di posyandu
1)    Melengkapi kebutuhan sarana di posyandu (dacin, KMS/Buku KIA).
2)    Orientasi kader.
3)    Menyediakan biaya operasional.
4)    Menyediakan materi KIE.
5)    Menyediakan suplementasi vitamin A.
b..     Tatalaksana kasus gizi buruk
1)    Menyediakan biaya rujukan khusus untuk gizi buruk gakin baik di Puskesmas/RS.
2)    Kunjungan rumah tindak lanjut setelah perawatan di puskesmas/RS.
3)    Menyediakan paket PMT bagi pasien pasca perawatan.
4)    Meningkatkan ketrampilan petugas puskesmas/RS dalam tatalaksana gizi buruk.
c.     Pencegahan gizi buruk
1)    Pemberian makanan tambahan pemulihan (MP-ASI) kepada balita gakin yang berat badannya tidak naik atau gizi kurang.
2)    Penyelenggaraan PMT penyuluhan setiap bulan di posyandu.
3)    Konseling kepada ibu-ibu yang anaknya mempunyai gangguan pertumbuhan.
d.     Surveilans gizi buruk
1)    Pelaksanaan pemantauan wilayah setempat gizi (PWS-Gizi).
2)    Pelaksanaan sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa gizi buruk.
3)    Pemantauan status gizi (PSG).
e.     Advokasi, sosialisasi dan kampanye penanggulangan gizi buruk
1)    Advokasi kepada pengambil keputusan (DPR, DPRD, Pemda, LSM, dunia usaha dan masyarakat).
2)    Kampanye penanggulangan gizi buruk melalui media efektif.
f.     Manajemen program:
1)    Pelatihan petugas
2)    Bimbingan teknis
C.    Kerangka Konsep

Anak balita juga merupakan kelompok umur yang rawan gizi. Kelompok ini yang merupakan kelompok umur yang paling menderita akibat gizi, dan jumlahnya dalam populasi besar. Status gizi dipengaruhi oleh faktor langsung berupa asupan makanan/ tingkat konsumsi dan penyakit infeksi, sedangkan faktor tidak langsung berupa faktor sosial ekonomi yang meliputi tingkat pendidikan, tingkat pendapatan keluarga, pola asuh makan, pengetahuan gizi dan ketersediaan pangan.
Salah satu penyebab tidak langsung dari kekurangan gizi pada balita adalah rendahnya tingkat pengetahuan gizi keluarga, yang disertai dengan rendahnya perilaku gizi keluarga. Ada beberapa faktor domain yang saling berhubungan dalam mempengaruhi konsumsi pangan dan gizi keluarga adalah pengetahuan gizi keluarga (khususnya ibu) dan tingkat pendapatan keluarga.
Untuk mencapai status gizi baik, harus ditunjang oleh tingkat pengetahuan gizi yang baik serta pendapatan yang memadai.  Pada penelitian ini, yang menjadi variabel bebas yang diteliti adalah pola makan, pengetahuan gizi ibu, tingkat pendapatan perk├ípita keluarga, dan penyakit infeksi. Sedangkan yang menjadi variabel terikat adalah kejadian gizi buruk pada balita. Adapun kerangka konsep secara lengkap dapat dilihat pada gambar 1.










    Gambar 3.1 : Kerangka Konsep Penelitian
Keterangan :
:Variabel Independen

: Variabel Dependen
           
            : Variabel Yang Tidak Diteliti
D.    Hipotesis

1.    Hipotesis Alternatif(Ha)

    a.   Pola makan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.
b.    Tingkat pengetahuan gizi ibu merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.
c.    Tingkat pendapatan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.
d.    Penyakit infeksi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.
2.     Hipotesis Nol (H0)
1)    Pola makan bukan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.
2)    Pengetahuan ibu tentang gizi bukan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.
3)    Tingkat pendapatan bukan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.
4)    Penyakit infeksi bukan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita.








III. METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah analitik observasional dengan rancangan case control study yaitu suatu penelitian analitik yang menyangkut bagaimana faktor risiko ditelusuri dengan menggunakan pendekatan retrospektif yang bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian gizi buruk d tinjau dari pola makan, tingkat pengetahuan gizi ibu, tingkat pendapatan, dan penyakit infeksi.




   
                       Matching
                           (Umur dan Jenis kelamin)





Gambar 2. Desain Penelitian Case Control
   
B.    Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan November tahun 2009 di wilayah kerja Puskesmas Dulupu Kecamatan Dulupi Kabupaten Boalemo
C.    Populasi dan Sampel
1.    Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah semua balita gizi buruk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Dulupi Kabupaten Boalemo tahun 2009 berjumlah 823 jiwa balita
2.    Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi, pada penelitian ini sampel terdiri dari :
Kasus    :    Gizi Buruk yang ada di kecamatan Dulupi tahun 2009
Kontrol    :    Gizi Baik yang ada di kecamatan paguyaman Dulupi tahun 2009
Tehnik pengambilan sampel dilakukan secara non random sampling dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan pertimbangan sebagai berikut :
1.    Sampel kasus dan kontrol yang diambil berdasrkan data yang ada di     puskesmas yang ada di Kecamatan Dulupi tahun 2009
2.    sampel kontrol dipilih dalam bentuk berpasangan (matching) dengan sampel kasus.
3.    Macthing yang digunakan adalah macthing umur.
4.    Penentuan besar sampel mengacu pada jumlah kasus yang tercatat di     Puskesmas yang ada di Kecamatan Dulupi yaitu 56 kasus.
5.    Besar sampel yang di ambil menggunakan rumus Sopiyudin dahlan yaitu sesuai kriteria variabel penelitian yang digunakan dan memperbanyak jumlah pembanding (kontrol) dengan perbandingan kasus dan kontrol yaitu 1:2 dengan rumus sebagai berikut :
n  = N (C+1)
_______
                  2C
Sumber : Sopiyudin dahlan, 2005

 Keterangan
       n = besar sampel
       N = jumlah kasus yang tercatat di rekam medik
       C = jumlah perbandingan
       sehingga besar sampel adalah :
       n = 56(2+1)
              _______
                 2x2
        n = 56x3
               _____
                  4
        n = 42

        Jadi besar sampel kasus Berjumlah 42, sampel kontrol berjumlah 426.


c.    Teknik pengambilan sampel
Pada penelitian ini pemilihan sampel dilakukan secara total sampling yaitu semua populasi dijadikan sebagai sampel. Adapun jumlah sampel pada penelitian ini adalah 23 orang kemudian kontrol 23 orang, sehingga untuk total keseluruhannya adalah 46 orang.
d.    Responden
Pada penelitian ini responden adalah ibu dari balita yang terpilih menjadi sampel dan bersedia untuk menjadi responden pada penelitian ini.     
D.    Variabel Penelitian, Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
1.    Variabel Penelitian
a.    Variabel bebas (independent variable) yaitu pola makan, pengetahuan gizi ibu, tingkat pendapatan dan penyakit infeksi.
b.    Variabel terikat (dependent variable) yaitu kejadian gizi buruk pada balita.
2.    Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
a.     Status Gizi
Status gizi adalah gambaran keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi, dilakukan dengan pengukuran BB/U dan dibandingkan dengan standar WHO-NCHS dengan simpang baku Z-Score. Adapun kriteria objektifnya yaitu :
1)    Gizi baik    :     Bila Z-Score   -2 SD sampai +2 SD
2)    Gizi buruk    :     Bila Z-Score < -3 SD
b.    Pola makan
Pola makan adalah kebiasaan makan dari balita yang memberikan gambaran mengenai macam makanan dan frekuensi makan seseorang balita. Pola makan diukur melalui nilai dari kuesioner. Adapun kriteria objektifnya adalah sebagai berikut :
1)    Cukup    :    Bila pola makan balita > 50 % dari total skor jawaban benar
 2)    Kurang    :    Bila pola makan balita   50 % dari total skor jawaban benar
c.    Pengetahuan Ibu Tentang Gizi
Merupakan pengetahuan responden (ibu balita) tentang hal-hal yang berhubungan dengan gizi, yang diukur melalui nilai dari daftar pertanyaan/kuesioner. Adapun kriteria objektifnya adalah sebagai berikut :
1)    Cukup    :    Bila pengetahuan gizi ibu > 50 % dari total skor jawaban benar.
 2)    Kurang    :    Bila pengetahuan gizi ibu   50 % dari total skor jawaban benar.
d.    Tingkat Pendapatan
Tingkat pendapatan adalah jumlah pendapatan perkapita yang diperoleh oleh kepala keluarga, istri, anak maupun anggota keluarga lainnya yang tinggal pada rumah tangga tersebut yang dinilai dalam bentuk uang dan barang yang dinilai dengan uang (rupiah) kemudian dibagi dengan jumlah anggota keluarga. Tingkat pendapatan perkapita keluarga pada tiap rumah tangga dinilai berdasarkan standar Upah Minimum Kota Kendari Tahun 2009. Adapun kriteria objektifnya sebagai berikut :

1)    Cukup    =     Bila pendapatan keluarga   Rp.500.000,- per bulan.
2)    Kurang    =    Bila pendapatan keluarga < Rp. 500.000,- per bulan.
(Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Kendari, 2009).
e.    Penyakit infeksi
Penyakit infeksi adalah penyakit yang diderita oleh balita selama berada pada wilayah lokasi penelitian dalam enam bulan terakhir sesuai dengan medical recordnya dan hasil wawancara. kriteria objektifnya adalah sebagai berikut :
1)    Ya    :    Apabila balita menderita salah satu atau lebih penyakit infeksi dalam enam bulan terakhir.
2)    Tidak    :    Apabila balita tidak pernah menderita salah satu atau lebih penyakit infeksi dalam enam bulan terakhir.
E.    Teknik Pengumpulan Data
1.    Data Primer
Diperoleh melalui daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah disusun sebelumnya berdasarkan tujuan penelitian yang dilakukan. Kemudian pertanyaan tersebut ditanyakan kepada responden.
2.    Data Sekunder
Diperoleh dari Puskesmas, penelusuran internet, dan dari instansi terkait lainnya.
F.    Tehnik Analisis Data
1.    Pengolahan Data
Pangolahan data dilakukan secara manual dan elektronik dengan menggunkan kalkulator dan komputer dengan program SPSS versi 14.0.
2.    Penyajian Data
Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai dengan penjelasan dan tabel untuk melihat pengaruh antara variabel independen dan variabel dependen.


3.    Analisis data 
Tekhnik analisis data yang digunakan adalah dengan uji kemaknaan a = 95% uji statistik yang digunakan adalah Odds Ratio, untuk menentukan basar faktor risiko variabel independen dengan rumus :
Tabel 4.1
Tabel Kontingensi 2 x 2
Faktor Risiko    Kelompok Studi    Jumlah
    Kasus    Kontrol   
Positif (+)    a    b    a + b
Negatif(-)    c    d    c + d
Jumlah    a + c    b + d    a + b + c + d
    Sumber : Chandra B, 1996
    OR = ad
              bc
Keterangan :
a    = Jumlah kasus dengan risiko positif (+)
b    = Jumlah kontrol dengan risiko positif (-)
c    = Jumlah kasus dengan risiko negatif (+)
d    = Jumlah kontrol dengan risiko negatif (-)



Interpestasi :
1.    Jika OR > 1, variabel independen merupakan faktor risiko terhadap pola asuh ibu dengan status gizi
2.    Jika OR = 1, variabel independen bukan merupakan faktor risiko terhadap pola asuh ibu dengan status gizi
3.    Jika OR < 1, variabel independen merupakan faktor protektif terhadap pola asuh ibu dengan status gizi
4.    Jika nilai lower limit dan upper limit tidak melalui atau mencakup nilai 1 maka OR dianggap bermakna, sebaliknya jika nilai upper limit dan lower limit melalui nilai 1 berarti OR dianggap tidak bermakna.















IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN


A.    Gambaran Umum Lokasi
1.    Letak Geografis
    Puskesmas Mata merupakan salah  satu  dari 11 Puskesmas yang ada di Kota Kendari, yang terletak di Kecamatan Kendari Kelurahan Kessilampe. Jarak dari Kantor Walikota  lebih kurang 12 km ke arah barat.
Wilayah kerja Puskesmas Mata ± 67.805 hektar yang berjarak ± 25 KM dari Ibukota Propinsi.
Adapun batas-batas wilayah kerja Puskesmas Mata antara lain :
a.    Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Soropia
b.    Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Kendari
c.    Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Banda
d.    Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kendari Barat
Jumlah desa/kelurahan seluruhnya di wilayah kerja Puskesmas Mata ada 9 kelurahan. Keadaan alam di wilayah kerja Puskesmas Mata terdiri dari  dataran (35%), pegunungan/bukit (65%). Iklim di wilayah kerja Puskesmas Mata adalah iklim tropis dengan musim hujan umumnya bulan Desember – Mei dan musim kemarau terjadi bulan Juni - November.  Suhu udara rata-rata berkisar antara 270C – 370C.

e.    Kondisi Demografis
Berdasarkan hasil pendataan terakhir, jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mata adalah 22.310  jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 5.044, yang tersebar dalam 9 wilayah kelurahan. Mata pencaharian terbesar penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mata adalah pedagang/industri (44%). Sedangkan yang lainnya adalah PNS/ABRI (23%), tani/nelayan (15%) dan sisanya buruh, sopir dan pekerja lainnya (18%).
Masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Mata terdiri dari berbagai macam suku. Mayoritas adalah suku Bugis, Muna dan Tolaki, juga terdapat kelompok suku minoritas yaitu Buton, Jawa, dan Makassar. Sebagian besar memeluk agama Islam. Agama lain yang dianut adalah Kristen, Katolik, Hindu dan Budha.
f.    Sarana Kesehatan
Sarana pelayanan kesehatan di terdapat di wilayah kerja Puskesmas Mata yang dijadikan sebagai unit pelayanan kesehatan bagi masyarakat setempat terdiri dari sarana kesehatan pemerintah dan sarana kesehatan yang bersumber daya masyarakat antara lain sebagai sarana kesehatan pemerintah terdiri dari 1 Puskesmas non perawatan dan  3 Puskesmas Pembantu, sedangkan sarana kesehatan bersumber daya masyarakat terdiri dari 15 Posyandu Balita dan 2 Posyandu Lansia.   


B.    Hasil Penelitian  dan Pembahasan
1.    Analisis univariat
a.    Distribusi balita menurut umur
Umur adalah umur pada saat ulang tahun terakhir (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Serang, 2008).
Penentuan matching umur sampel (kasus dan kontrol) berdasarkan kelompok umur dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Distribusi  Matching Sampel Berdasarkan Kelompok Umur

Kelompok Sampel    Kelompok Umur
    0-11
bln    12-23
bln    24-35
bln    36-47
bln    48-59
bln
Kasus    5    10    7    1    0
Kontrol    5    10    7    1    0
Jumlah    10    20    14    2    0
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009   
Tabel 3 memperlihatkan bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel, jumlah balita yang menjadi sampel lebih banyak pada kelompok umur 12-23 bulan yaitu sebanyak 20 balita (10 balita pada kasus dan 10 balita pada kontrol) dan tidak ditemukan balita pada kelompok umur 48-59 bulan (tidak ada balita baik pada kelompok kasus maupun kontrol).
 Kelompok umur balita dalam penelitian ini dapat juga dilihat pada gambar 3  berikut :

    Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Gambar 3.    Grafik Balita Menurut  Umur  di  Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008

Pada gambar 3 telihat bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel, jumlah balita yang menjadi sampel lebih banyak pada kelompok umur 12-23 bulan yaitu sebanyak 20 balita (43,5%) dan tidak ditemukan balita pada kelompok umur 48-59 bulan (0%).
b.    Distribusi balita menurut jenis kelamin
Jenis kelamin adalah kata yang umumnya digunakan untuk membedakan seks seseorang seperti laki-laki dan perempuan (Komsiah, 2008).
Penentuan matching sampel (kasus dan kontrol) berdasarkan jenis kelamin dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.


Tabel 4. Distribusi  Matching Sampel berdasarkan Jenis Kelamin
Kelompok Sampel    Jenis Kelamin    Jumlah
    Laki-Laki    Perempuan   
Kasus    11    12    23
Kontrol    11    12    23
Jumlah    22    24    46
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Tabel 4 memperlihatkan bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel, jumlah balita yang menjadi sampel lebih banyak pada jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 24 balita (12 balita pada kasus dan 12 balita pada kontrol) dan balita dengan jenis kelamin laki-laki yaitu 22 balita (11 balita pada kasus dan 11 balita pada kontrol).
Karakteristik balita menurut jenis kelamin dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 4.

 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
      Gambar 4.     Grafik   Balita   Menurut   Jenis   Kelamin   di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008

Gambar 4 menunjukkan bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel, sebagian besar balita berjenis kelamin perempuan sebanyak 24 orang (52,2%), dan sebanyak 22 balita (47,8%) berjenis  kelamin laki-laki.
c.    Distribusi balita menurut jenis penyakit infeksi
Infeksi adalah masuknya, bertumbuh dan berkembangnya agent penyakit menular dalam tubuh manusia atau hewan. Infeksi tidaklah sama dengan penyakit menular karena akibatnya mungkin tidak kelihatan atau nyata. Adanya kehidupan agent menular pada permukaan luar tubuh, atau pada barang,  pakaian atau barang-barang lainnya, bukanlah infeksi, tetapi merupakan kontaminasi pada permukaan tubuh atau benda (Noor, 1997).
Jenis penyakit infeksi yang diderita oleh balita dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Distribusi    Balita    Berdasarkan   Jenis    Penyakit    Infeksi         di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
No    Penyakit Infeksi    Jumlah    %
1
2
3
4
    ISPA
Diare
Cacar
Tidak Menderita Penyakit Infeksi    32
5
2
7    69,6
10,9
4,3
15,2
    Total    46    100
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Tabel 5 memperlihatkan bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel, sebagian besar sampel menderita penyakit infeksi yaitu 39 orang (84,8%), 32 orang (69,6%) diantaranya menderita ISPA, 5 orang (10,9%) menderita diare dan 2 orang (4,3%) menderita cacar. Sedangkan yang tidak menderita penyakit infeksi  sebanyak 7 orang (15,2 %). Data diperoleh dari keterangan responden dan diagnosa penyakit didasarkan pada catatan medik (medical record) Puskesmas Mata.
d.    Distribusi balita menurut pola makan
Gambaran pola makan balita dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6.    Distribusi Sampel  Berdasarkan   Pola Makan  di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
Kelompok Sampel    Pola Makan    Jumlah
    Kurang    Cukup   
Kasus    21    2    23
Kontrol    10    13    23
Jumlah    31    15    46
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Tabel 6 memperlihatkan bahwa dari 46 balita yang menjadi sampel, jumlah balita yang menjadi sampel lebih banyak yang pola makannya kurang yaitu sebanyak 31 balita (21 balita pada kasus dan 10 balita pada kontrol) dan balita dengan pola makan cukup yaitu 15 balita (2 balita pada kasus dan 13 balita pada kontrol).
e.    Distribusi balita menurut pengetahuan ibu tentang gizi
Gambaran pengetahuan ibu tentang gizi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 7.     Distribusi Sampel  Berdasarkan Pengetahuan Gizi Ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
Kelompok Sampel    Pengetahuan Ibu Tentang Gizi    Jumlah
    Kurang    Cukup   
Kasus    13    10    23
Kontrol    2    21    23
Jumlah    15    31    46
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Tabel 7 memperlihatkan bahwa dari 46 sampel, jumlah sampel yang  banyak yang memiliki pengetahuan ibu tentang gizi yang cukup yaitu sebanyak 31 balita (10 balita pada kasus dan 21 balita pada kontrol) dan balita dengan pengetahuan ibu tentang gizi yang kurang yaitu 15 balita (13 balita pada kasus dan 2 balita pada kontrol).
f.    Distribusi balita menurut tingkat pendapatan
Gambaran tingkat pendapatan keluarga balita dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8.     Distribusi Sampel Berdasarkan Tingkat Pendapatan Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
Kelompok Sampel    Pendapatan Keluarga    Jumlah
    Kurang    Cukup   
Kasus    21    2    23
Kontrol    20    3    23
Jumlah    41    5    46
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Tabel 7 memperlihatkan bahwa dari 46 sampel, jumlah sampel yang  banyak yang memiliki pendapatan kelarga yang kurang yaitu sebanyak 41 balita (21 balita pada kasus dan 20 balita pada kontrol) dan balita dengan pendapatan kelarga yang cukup yaitu 5 balita (2 balita pada kasus dan 3 balita pada kontrol).
g.    Distribusi responden menurut tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan adalah suatu proses jangka panjang yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisir, yang mana tenaga kerja manajerial mempelajari pengetahuan konsepsual dan teoritis untuk tujuan tujuan umum (Mangkunegara, 2003).
Karakteristik responden menurut tingkat pendidikan dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 5 berikut :

 Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
 Gambar 5. Grafik Responden Menurut Tingkat Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun  2008
Gambar 5 menunjukkan bahwa dari 46 responden, sebagian besar responden mempunyai tingkat pendidikan  SMP sebanyak 21 orang (45,7%) dan hanya 4 responden (8,7%) yang mempunyai tingkat pendidikan perguruan tinggi.
h.    Distribusi responden menurut jenis pekerjaan kepala keluarga
Pekerjaan adalah suatu kegiatan yang dil;akukan untuk menafkahi diri dan keluarganya dimana pekerjaan tersebut tidak ada yang mengatur dan dia bebas karena tidak ada etika yang mengatur (Cookeyzone, 2009).
Karakteristik ibu balita menurut jenis pekerjaan kepala keluarga dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 6 berikut :

             Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
      Gambar 6. Grafik   Responden   Menurut Jenis Pekerjaan Kepala Rumah Tangga di Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
Gambar 6 menunjukkan bahwa dari 46 responden, sebagian besar kepala keluarga mempunyai mata pencaharian sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 22 orang (47,8%). Sedangkan sebagian kecil mempunyai pekerjaan sebagai buruh, PNS, ojek, tukang kayu dan nelayan .
2.    Analisis bivariat
a.    Faktor risiko pola makan dengan kejadian gizi buruk pada balita

Pola makan adalah gambaran pola menu, frekuensi, dan jenis bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari dimana merupakan bagian dari gaya hidup atau ciri khusus suatu kelompok (Astawan, 1998).
Distribusi balita berdasarkan pola makan di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9.    Distribusi Frekuensi Menurut Pola Makan Di Wilayah Kerja    Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
No     Pola Makan    Status Balita    OR
    CI 95 %
        Kasus    Kontrol    13,6    2,57 - 72,39
        n    %    n    %       
1
2    Kurang
Cukup    21
2    91,3
8,7    10
13    43,5
56,5       
Total    23    100    23    100       
    Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009

Tabel 9 menunjukkan bahwa dari 23 balita yang termasuk kelompok kasus, sebagian besar balita yaitu 21 (91,3%) balita pola makannya kurang dan 2 (8,7%) balita  dengan pola makan cukup. Sedangkan pada kelompok kontrol dari 23 balita yang termasuk kelompok kontrol, terdapat 10 (43,5%) balita  pola makannya kurang, dan 13 (56,5%) balita  yang  pola makannya cukup. Hasil  uji  statistik bermakna pada tingkat kepercayaan 95%, karena lower limit dan upper limit tidak mencakup nilai 1, dengan nilai OR=13,6 (2,57<OR<72,39).
Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa balita dengan pola makan kurang memiliki risiko kejadian gizi buruk 13,6 kali daripada balita dengan pola makan cukup. Hal tersebut dapat  dikatakan bahwa sampel yang pola makannya kurang, memiliki peluang 13,6 kali berisiko untuk menderita gizi buruk dibanding balita yang pola makannya cukup. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Manjilala (2007) yang dari penelitiannya berkesimpulan bahwa status gizi balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mamajang dipengaruhi oleh pola makan balita.  
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pada kelompok kasus sebagian besar balita memiliki pola makan yang kurang hal ini disebabkan oleh karena pola hidangan sehari-hari yang tidak tepat dan frekuensi makan balita dalam sehari terhadap bahan makanan yang mengandung zat-zat gizi seperti makanan pokok,lauk pauk, sayuran dan buah masih kurang yang pada umumnya diberikan tidak tentu, hal inilah yang menjadi pemicu terjadinya gizi buruk pada balita.
Pada kelompok kasus juga terdapat balita yang pola makannya cukup sebanyak 2 (8,7%) balita.  Balita tersebut pola makannya telah cukup, tetapi masih menderita gizi buruk. Hal ini di duga disebabkan karena pola makan yang cukup bukan satu-satunya faktor yang menjadikan balita terhindar dari kejadian gizi buruk, tetapi ada beberapa faktor lain seperti salah satunya adalah penyakit infeksi. Adanya penyakit infeksi seperti ISPA maupun diare pada balita menyebabkan makanan yang dikonsumsi balita akan terhambat penyerapannya dan energi didapatkan dari makanan akan habis atau berkurang.
b.    Faktor risiko pengetahuan ibu tentang gizi dengan kejadian gizi buruk pada balita

Pengetahuan adalah merupakan hasil ”tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut di atas (Notoatmodjo, 2003).
Distribusi balita berdasarkan pengetahuan ibu tentang gizi di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 10. Distribusi  Frekuensi  Menurut  Pengetahuan  Ibu  Tentang  Gizi Di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
No     Pengetahuan Ibu Tentang Gizi    Status Balita    OR    CI 95%
        Kasus    Kontrol    13,6     2,57 - 72,39
        n    %    n    %       
1
2    Kurang
Cukup    13
10    56,5
43,5    2
21    8,7
91,3       
Total    23    100    23    100       
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Dari tabel 10 menunjukkan bahwa dari 23 ibu balita yang termasuk kelompok kasus, terdapat 13 (56,5%) ibu balita dengan tingkat pengetahuan yang kurang dan 10 (43,5%) ibu balita dengan  tingkat pengetahuan cukup. Sedangkan pada kelompok kontrol, dari 23 ibu balita yang termasuk kelompok kontrol, sebagian besar (91,3%) ibu balita mempunyai tingkat pengetahuan cukup dan 2 (8,7%) ibu balita dengan tingkat pengetahuan yang kurang. Hasil  uji  statistik  bermakna pada tingkat kepercayaan 95% karena lower limit dan upper limit tidak mencakup nilai 1, dengan nilai OR = 13,6 (2,57<OR<72,39).  
Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan gizi ibu merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa ibu yang kurang pengetahuan gizinya berisiko mengalami kejadian gizi buruk pada balita 13,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang berpengetahuan gizi cukup.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Yuliati (2008) yang dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang gizi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kecamatan Mandonga tahun 2008. Pengetahuan ibu tentang gizi yang cukup akan membantu ibu khususnya dalam hal pemenuhan zat-zat gizi dalam penyediaan makanan sehari-hari, karena dengan hal itu ibu akan mengetahui pola pemberian makanan yang memiliki gizi kepada balita maupun keluarga  sehingga pemenuhan gizi bagi keluarga akan terjadi dan dengan hal ini akan membuat kecukupan gizi bagi balita dan keluarga akan terpenuhi.
Pengetahuan ibu tentang gizi yang cukup akan memberikan pengaruh  pada status gizi anak yang lebih baik jika dibandingkan dengan ibu yang memiliki pengetahuan tentang gizi yang kurang. Hal   ini disebabkan karena ibu yang memiliki pengetahuan gizi yang cukup akan lebih memiliki informasi yang terkait dengan pemenuhan gizi balita dengan baik dan tentunya akan berpengaruh pada proses praktek  pengelolaan makanan di rumahnya mulai dari persiapan sampai dengan pendistribusiannya pada setiap anggota rumah tangga khusunya kepada balitanya, bila dibandingkan dengan ibu yang memilki pengetahuan tentang gizi yang kurang.
Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal, pemeliharaan dan energi. Banyak para peneliti menemukan masalah gizi buruk disebabkan karena ketidaktahuan terhadap gizi sehingga banyak jenis-jenis bahan makanan yang tidak dimanfaatkan untuk konsumsi anak .
c.    Faktor risiko tingkat pendapatan keluarga dengan kejadian gizi buruk pada balita

Tingkat pendapatan adalah total jumlah pendapatan dari semua anggota keluarga , termasuk semua jenis pemasukan yang diterima oleh keluarga dalam bentuk uang, hasil menjual barang, pinjaman dan lain-lain (Thaha, 1996 dalam Rasifa 2006).
Distribusi balita berdasarkan Tingkat Pendapatan di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari dapat dilihat pada tabel 11.










Tabel 11.  Distribusi Frekuensi Menurut Tingkat Pendapatan Keluarga  Di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
No     Pendapatan Keluarga    Status Balita    OR    CI 95%
        Kasus    Kontrol    1,57    0,23 – 10,43
        n    %    n    %       
1
2    Kurang
Cukup    21
2    91,3
8,7    20
3    87,0
13,0       
Total    23    100    23    100       
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Dari tabel 11 menunjukkan bahwa dari 23 balita yang termasuk kelompok kasus, sebagian besar (91,3%) tingkat pendapatan keluarga responden masih kurang dan hanya 2 (8,7%) responden dengan tingkat pendapatan yang cukup. Sedangkan dari 23 balita yang termasuk kelompok kontrol, sebagian besar (87,0%) responden dengan tingkat pendapatan yang kurang dan hanya 3 (13,0%) responden dengan tingkat pendapatan yang cukup. Hasil  uji  statistik tidak bermakna secara signifikan pada tingkat kepercayaan 95% karena lower limit  mencakup nilai 1, sedangkan nilai OR = 1,57 (0,23<OR<10,43). 
Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat pendapatan keluarga merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa responden yang kurang tingkat pendapatan keluarganya kurang berisiko mengalami kejadian gizi buruk pada balita 1,57 kali lebih tinggi dibanding dengan responden yang mempunyai tingkat pendapatan keluarganya cukup. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Yuliati (2008) yang dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tingkat pendapatan keluarga merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kecamatan Mandonga tahun 2008.
Dari hasil penelitian juga terdapat responden yang mempunyai tingkat pendapatan yang cukup tetapi balita berstatus gizi buruk, ini disebabkan karena faktor lain seperti balita yang malas makan, kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi, pemberian makanan yang tidak tentu pada balita anak, serta balita menderita penyakit infeksi.
Tingkat pendapatan keluarga akan mempengaruhi mutu fasilitas perumahan, penyediaan air bersih dan sanitasi yang pada dasarnya sangat berperan terhadap timbulnya penyakit infeksi. Selain itu, penghasilan keluarga akan menentukan daya beli keluarga termasuk makanan, sehingga mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan yang tersedia dalam rumah tangga dan pada akhirnya mempengaruhi asupan zat gizi (Suhardjo dalam Yuliati, 2008).


d.    Faktor risiko penyakit infeksi dengan kejadian gizi buruk pada balita

Infeksi adalah masuknya, bertumbuh dan berkembangnya agent penyakit menular dalam tubuh manusia atau hewan. Infeksi tidaklah sama dengan penyakit menular karena akibatnya mungkin tidak kelihatan atau nyata. Adanya kehidupan agent menular pada permukaan luar tubuh, atau pada barang,  pakaian atau barang-barang lainnya, bukanlah infeksi, tetapi merupakan kontaminasi pada permukaan tubuh atau benda (Noor, 1997).
Distribusi balita berdasarkan faktor risiko penyakit infeksi di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel 12.    Distribusi  Frekuensi  Menurut  Penyakit  Infeksi  Di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008
No     Penyakit Infeksi    Status Balita    OR    CI 95%
        Kasus    Kontrol    2,9    0,50 – 16,89
        n    %    n    %       
1
2    Ya
Tidak    21
2    91,3
8,7    18
5    78,3
21,7       
Total    23    100    23    100       
Sumber : Data Primer Diolah Tahun 2009
Data tabel 12 menunjukkan bahwa dari 23 balita yang termasuk kelompok kasus,  sebagian besar (91,3%) sampel menderita penyakit infeksi dan hanya 2 (8,7%) tidak menderita penyakit infeksi. Sedangkan dari 23 balita yang termasuk kelompok kontrol, sebagian besar (78,3%) yang menderita penyakit infeksi dan hanya 5 (21,7%) yang tidak menderita penyakit infeksi. Hasil uji statistik tidak bermakna secara signifikan pada tingkat kepercayaan 95% karena lower limit mencakup nilai 1, sedangkan nilai OR = 2,9 (0,50<OR<16,89).
Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyakit infeksi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa sampel yang menderita penyakit infeksi berisiko mengalami kejadian gizi buruk 2,9 kali lebih tinggi dibanding dengan sampel yang tidak menderita penyakit infeksi.
Data penyakit infeksi diperoleh melalui keterangan dari responden dan didukung oleh data dari catatan medik (medical record) sampel Puskesmas Mata. Adapun jenis penyakit infeksi yang diderita oleh sampel adalah ISPA sebanyak 32 (69,6%) balita, diare sebanyak 5 (10,9%) balita dan cacar sebanyak 2 (4,3%) balita  .
Terjadinya hubungan timbal balik antara kejadian infeksi penyakit dan gizi kurang maupun gizi buruk.Anak yang menderita gizi kurang dan gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan, sehingga rentan terhadap penyakit infeksi. Di sisi lain anak yang menderita sakit infeksi akan cenderung menderita gizi buruk (Depkes dalam Yuliaty 2008).
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Yuliati (2008) yang dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penyakit infeksi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di Kecamatan Mandonga tahun 2008. Penelitian yang dilakukan oleh Asni (2006) di Kecamatan Sangia Wambulu juga menunjukkan bahwa anak balita yang menderita penyakit infeksi, memiliki resiko 4,49 kali untuk menderita kekurangan gizi dibandingkan dengan anak balita yang tidak menderita penyakit infeksi.
Penyakit infeksi banyak diderita oleh balita pada saat penelitian disebabkan adanya perubahan cuaca sehingga sangat mempengaruhi kondisi kesehatan. Hal ini karena daya tahan tubuh menurun, sehingga banyak balita dan juga orang dewasa kebanyakan menderita batuk dan pilek terutama  pada anak yang berstatus gizi buruk, sehingga terdapat balita pada kelompok kontrol yang menderita penyakit infeksi juga.
Pada anak yang menderita infeksi terjadi gangguan pada pertahanan tubuh dan  sebagai akibatnya akan terjadi penurunan berat badan dalam waktu yang singkat sehingga menyebabkan kekurangan gizi. Di lain pihak, infeksi akan memberikan efek berupa gangguan pada tubuh, yang dapat menyebabkan kekurangan gizi. Penyakit infeksi dapat menyebabkan kurang gizi sebaliknya kurang gizi juga menyebabkan penyakit infeksi.
Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan pada saat penelitian diketahui bahwa balita berstatus gizi buruk pada umumnya ditemui dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi dengan berbagai kondisi yang dapat menyebabkan status kesehatan yang jelek dan menyebabkan penyakit infeksi seperti sanitasi lingkungan perumahan yang sangat tidak memadai.











V. PENUTUP

A.    Simpulan
Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.    Pola makan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008. Pola makan yang kurang, berisiko mengalami kejadian gizi buruk pada balita 13,6 kali jika dibandingkan dengan balita yang pola makannya cukup.
2.    Pengetahuan ibu tentang gizi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008. Ibu dengan pengetahuan gizi yang kurang, berisiko mengalami kejadian gizi buruk pada balita 13,6 kali jika dibandingkan dengan ibu dengan pengetahuan gizi yang cukup.
3.    Tingkat pendapatan merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008. Pendapatan keluarga yang kurang pada responden, berisiko mengalami kejadian gizi buruk pada balita 1,57 kali jika dibandingkan dengan pendapatan keluarga yang cukup pada responden.
4.    Penyakit infeksi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita di wilayah kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008. Balita yang menderita penyakit infeksi, berisiko mengalami kejadian gizi buruk 2,9 kali jika dibandingkan dengan  balita yang tidak menderita penyakit infeksi.

B.    Saran
    Berdasarkan kesimpulan diatas, dibuat saran penelitian sebagai berikut :
1.    Bagi masyarakat yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari, agar meningkatkan konsumsi makanan balita baik secara kuantitas maupun kualitas sesuai dengan kebutuhannya, dan juga menggalakkan sadar gizi dalam keluarga guna memperbaiki pola makan bagi balita.
2.     Bagi ibu-ibu balita yang ada di wilayah kerja Puskesmas Mata agar senantiasa meningkatkan pengetahuannya tentang gizi bagi keluarga dan balita melalui berbagai media maupun dengan mengikuti penyuluhan kesehatan tentang gizi oleh tenaga kesehatan agar menambah pengetahuan dalam hal pemenuhan gizi keluarga dan balita.    
3.    Bagi masyarakat yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari, agar mengatur pendapatan keluarga guna mendukung pemenuhan gizi yang baik dalam keluarga khususnya bagi balitanya.
4.    Bagi masyarakat yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari, agar senantiasa meningkatkan upaya preventif (pencegahan) terhadap penyakit infeksi dengan menerapkan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat.
5.    Bagi peneliti lain yang tertarik dengan masalah gizi buruk pada balita dapat mengambil variabel lain sebagai variabel bebas penelitian karena masih banyak faktor-faktor yang berkaitan dengan terjadinya gizi buruk pada balita.


















DAFTAR PUSTAKA


Aditama, T.Y dan Tri Hastuti, 2002. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. UI-Press. Jakarta.
Almatsier, S, 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Ariani, M, 2007. Wilayah Rawan Pangan dan Gizi Kronis di Papua, Kalimantan Barat dan Jawa Timur. Pusat Analisis dan Kebijakan Pertanian Departemen Pertanian.Bogor.

Astawan, M, 1998. Gizi dan Kesehatan Manula. Medyatama Sarana Pustaka. Jakarta.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2007. Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta. 

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI, 2008. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Jakarta.

Chandra, 1996. Pengantar Prinsip dan Metodologi Epidemiologi. Penerbit EGC. Jakarta.

Cookeyzone, 2009. Pengertian Profesi dan Pekerjaan. www. Cookeyzone. Blogspot. Com.

Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Kendari, 2009. UMK (Upah Minimum Kota) Kendari. Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Kendari. Kendari.

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Serang, 2008. Profil Penduduk Kabupaten Serang. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Serang. Banten.

Irwandy, 2007. Sulawesi Selatan Daerah Penghasil Pangan dan Gizi Buruk. Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Makassar.

Kartasapoetra, G, 2002. Ilmu Gizi (Korelasi Gizi, Kesehatan dan Produktivitas Kerja). PT. Rineka Cipta. Jakarta.

Khomsan, dkk, 2004. Pengantar Pangan dan Gizi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Khumaidi, M, 1994. Gizi Masyarakat. PT. BPK Gunung Mulia. Jakarta.
Komsiah, S, 2008. Pengantar Sosiologi. Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercubuana. Jakarta.

Malik, A, 2008. Gizi Buruk Tewaskan 3,5 Juta Balita Per tahun. www.lifestyle.okezone.com.

Mangkunegara, A.P, 2003. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Refika Aditama. Bandung.

Mardiansyah, L, 2008. Gizi Buruk di Indonesia.  SMP 167. Jakarta.
Multono, 2000. Ilmu Kebidanan Edisi 3. Gramedia. Jakarta.

Nency, Y., 2005, Gizi Buruk Ancaman Generasi Yang Hilang,
    http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=113, 5 November 2005

Noor, N, 1997. Epidemiologi Penyakit Menular. Rineka Cipta. Jakarta.

Notoadmodjo, S, 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Pudjiadi, S, 2003. Ilmu Gizi Khusus Pada Anak. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.

Rasifa, 2006. Hubungan Sosial Ekonomi Keluarga dengan Status Gizi Balita Berdasarkan Indeks Tinggi Badan Menurut Umur di Wilayah Kerja Puskesmas Betoambari, Kec. Betoambari Kota Bau Bau Tahun 2006. Skripsi yang tidak diterbitkan Universitas Haluoleo. Kendari.

Sadewa, A.L., 2008, Makalah KEP,
    http://ayahaja.wordress.com, 28 November 2008.

Santoso, S dan Anne Lies Ranti, 2004. Kesehatan dan Gizi. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Suhardjo, 2002. Berbagai Cara Pendidikan Gizi. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.

    , 2003. Perencanaan Pangan dan Gizi. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.

Supariasa, dkk, 2001. Penilaian Status Gizi. Penerbit EGC. Jakarta.

Yuliati, 2008. Faktor Risiko Kejadian Gizi Buruk Pada Balita di Kecamatan Mandonga Kota Kendari Tahun 2008. Skripsi yang tidak diterbitkan Universitas Haluoleo. Kendari.


























LAMPIRAN -LAMPIRAN

























LAMPIRAN I

NASKAH PENJELASAN UNTUK MENDAPATKAN PERSETUJUAN SUBJEK DAN FORMULIR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (INFORMED CONSENT)


Kami meminta anda untuk turut mengambil bagian dalam suatu penelitian berjudul : ” Faktor- Faktor Resiko Kejadian Gizi Buruk Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari Tahun 2008 ”.

WAWANCARA
Dalam penelitian ini dilakukan wawancara untuk mengetahui pola makan, pengetahuan ibu tentang gizi, tingkat pendapatan dan penyakit infeksi. Pelaksanaan wawancara hanya dilaksanakan 3 (tiga) hari saja.

MANFAAT
Informasi yang anada berikan akan sangat bermanfaat sebagai salah satu sumber pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan upaya pencegahan dan perbaikan status gizi buruk pada balita dan merupakan sumber informasi bagi pembuat kebijakan khususnya Dinas Kesehatan Kota Kendari dan instansi terkait lainnya dalam upaya menanggulangi masalah gizi balita di Kota Kendari.

KERAHASIAAN
Catatan mengenai kerahasiaan dan keterlibatan anda dalam penelitian ini akan dirahasiakan.

PARTISIPASI SUKARELA
Anda tidak akan dipaksa untuk ikut dalam penelitian ini bila anda tidak menghendakinya . Anda hanya boleh ikut atas kehendak anda sendiri. Anda berhak sewaktu-waktu menolak melanjutkan partisipasi anda tanpa perlu memberikan alasan.

TANDA TANGAN
Saya telah membaca, atau dibacakan pada saya apa yang telah tetera di atas ini dan saya telah diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan membicarakan penelitian ini dengan peneliti. Dengan membubuhkan tanda tangan saya di bawah ini, saya menegaskan keikutsertaan saya secara sukarela dalam penelitian ini.  
         Maret 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar